JEJAK YANG TAK TERLUPAKAN

Penjual es

Catatan seorang hamba

Hidup butuh perjuangan. Keringat yang keluar menjadi wujud seberapa besar kerja keras yang kamu lakukan. Hal itu sebagai pertanda sejauhmana keberkahan yang akan kita dapatkan dikemudian hari. Semakin banyak keringat, Rizki yang masuk juga semakin berkah. 


Es...es...es Mambo... 

Lengkingan suaraku menggema di sepanjang lorong dan jalan yang kulakui walau tanpa alas kaki. Berharap satu dua orang menghampiri dan  menukarkan kan daganganku dengan receh. Terik mentari menjadi momen yang selalu kunantikan. Walau peluh membanjiri sekujur tubuh, namun terkalahkan dengan besarnya harapan daganganku akan habis.


Bagi kebanyakan orang hujan membawa rezeki namun aku selalu berdoa hujan tidak turun. Bagiku justru hujan akan membuat daganganku tidak laku. Itu artinya hari ini aku tidak bisa membawa uang pulang untuk aku berikan kepada ibu.  


Menjadi anak bungsu dari lima bersaudara dengan kondisi ekonomi ibu pasca bercerai memaksaku untuk mencari uang jajan sendiri. 


Kala itu usiaku masih sangat belia sekitar delapan tahun. Aku tidak begitu paham permasalahan yang sedang dialami oleh orang tuaku. Satu hal yang ku tahu bahwa ibuku selalu ada buatku. Sementara bapakku sejak aku balita aku jarang bertemu. Entah apa penyebabnya. 


Satu hari aku melihat ibuku menyeka butiran bening yang ingin menerobos keluar. Buru-buru dia menghapus air matanya dan mencoba tersenyum kepadaku menyambutku pulang sekolah.

"Mengapa ibu menangis," pertanyaan yang sempat keluar dari bibirku.

"Ibu tidak nangis, tadi ada binatang masuk membuat mata ibu kelilipan." Jawabnya menyembunyikan apa yang terjadi.

 

Senyum terkembang dari bocah berusia  tiga tahun sembari merapatkan langkahnya kearahku. Gadis manis yang sejak lahir telah menjadi yatim piatu itu selalu menemaniku berjualan di depan gerbang sekolah hanya untuk sekedar mendapatkan sebiji es Mambo yang selalu kusisihkan untuknya. 

(Bersambung)










Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama