Menurut filosofi Ki Hajar Dewantara, seorang pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak."
Dalam proses ‘menuntun’ anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya.
Kaitannya dengan tugas menuntun, Ki Hajar Dewantara merumuskan tiga pilar pendidikan (triloka pendidikan) yaitu Ing Ngarso Sung Tulodo (di depan memberi teladan, Ing Madyo Mangun Karso (di tengah memberi bimbingan dan arahan), dan Tut Wuri Handayani (di belakang memberi dorongan).
Penting bagi seorang guru memahami dan memiliki nilai-nilai dari seorang guru penggerak (mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif serta berpihak pada murid) yang nantinya akan bisa membantu seorang pendidik menjalankan perannya sebagai seorang guru dengan tujuan bisa mewujudkan profil pelajar Pancasila yang beriman dan bertaqwa kepada TYME, berkebinekaan global, bergotong royong, kreatif, bernalar kritis dan mandiri.
Kehadiran nilai dalam diri seseorang dapat berfungsi sebagai standar bagi seseorang dalam mengambil posisi khusus dalam suatu masalah, sebagai bahan evaluasi dalam membuat keputusan, bahkan hingga berfungsi sebagai motivasi dalam mengarahkan tingkah laku individu dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk mengarahkan tingkah laku individu tidak bisa lepas dari kemampuan komunikasi yang dimiliki oleh seorang guru.
Ketika berkomunikasi dengan orang lain, tidak selalu apa yang kita harapkan akan berjalan dengan lancar. Ada saja hambatan yang datang dan seringkali hasil komunikasi tersebut tidak dapat memuaskan semua orang.
Untuk menguatkan argumen kita saat berkomunikasi maka dalam setiap komunikasi diperlukan data yang benar dan dinamika yang sesuai. Tanpa gambaran akurat tentang pesan atau masalah yang sedang dibahas, maka kesan subjektivitas akan hadir dalam proses komunikasi. Salah satu keterampilan komunikasi yang harus dimiliki oleh seorang pendidik adalah keterampilan coaching.
coaching adalah salah satu kompetensi pemimpin di abad 21 yang perlu untuk terus dikembangkan, dan lewat keterampilan berkomunikasi yang terus diasah, kita dapat memberdayakan potensi murid kita untuk menentukan solusi yang dari permasalahan yang dihadapinya.
Seseorang yang ingin keluar dari permasalahan yang dihadapi harus memiliki akal dan karsa yang keduanya tidak boleh bertentangan dengan moral. Karsa merupakan suatu unsur yang tidak terpisahkan dari perilaku manusia. Karsa ini pun berhubungan dengan nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang dianut oleh seseorang, disadari atau pun tidak. Nilai-nilai atau prinsip-prinsip inilah yang mendasari pemikiran seseorang dalam mengambil suatu keputusan yang mengandung unsur dilema etika.
Etika tentunya bersifat relatif dan bergantung pada kondisi dan situasi, dan tidak ada aturan baku yang berlaku. Tentunya ada prinsip-prinsip yang lain, namun ketiga prinsip di sini adalah yang paling sering dikenali dan digunakan. Ketiga prinsip tersebut adalah:
1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)
Disamping menerapkan tiga prinsip di atas, dalam pengambilan keputusan, kita juga harus mempertimbangkan 4 paradigma, agar kita bisa lebih menganalisis permasalahan yang terjadi hingga nantinya kita bisa mengambil keputusan yang benar.
Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, Anda harus memastikan bahwa keputusan yang Anda ambil adalah keputusan yang tepat. Oleh karena itu perlu dilakukan pengujian untuk mengetahui apakah keputusan tersebut telah sesuai dengan prinsip-prinsip dasar pengambilan keputusan secara etis.
Pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Satu hal yang perlu dipahami juga, bahwa keputusan apapun yang kita buat tidak akan pernah bisa memuaskan semua pihak. Yang paling penting adalah semua tahapan kita lakukan agar keputusan yang kita ambil bisa dipertanggung jawabkan dan bisa diterima oleh banyak orang.
Jika terjadi kasus seperti atasan atau pengambil kebijakan tidak setuju dengan keputusan yang kita ambil sehingga menyebabkan terjadi hal yang tidak kita inginkan seperti tiba-tiba kita dimutasi. Maka hal yang perlu kita sadari adalah apapun yang terjadi sudah sesuai dengan ketentuan Allah, dan nyakinlah Allah punya rencana indah dikemudian hari karena hanya Dia yang maha tahu apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.
Keputusan yang diambil oleh seorang pemimpin pembelajaran akan sangat menentukan masa depan anak didiknya di kemudian hari. Sebagai seorang pendidik sebelum mengambil keputusan atas permasalahan yang terjadi, hendaknya menggunakan 4 paradigma, tiga prinsip serta 9 langkah pengambilan keputusan dan pengujian dari keputusan yang diambil. Agar keputusan yang diambil bisa dipertanggung jawabkan dan berdampak positif dikemudian hari.
Kesimpulan yang dapat saya tarik dari materi yang ada di modul 1 sampai modul 3 pendidikan guru penggerak adalah bahwa sebagai pemimpin pembelajaran guru memiliki peran yang sangat penting untuk mencetak generasi unggul sesuai dengan cita-cita luhur bangsa Indonesia yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mencetak generasi profil pelajar Pancasila sehingga akhirnya nanti bisa menghasilkan generasi Indonesia Emas sesuai harapan kita semua.

keren bu koneksi yg sangat menarik...
BalasHapusterima kasih...
BalasHapusLuar biasa ibu Siti Marwanah,tetap semangat dan jadilah guru sejati. 💪👍
BalasHapus