Pandanganku tertuju pada kertas yang berserakan di lantai. Lembaran yang dipenuhi dengan rumus-rumus dan kata kunci hasil coretan tanganku itu membuat kamar itu ibarat kapal pecah. Niatnya untuk memahami soal saat tes tertulis berlangsung, alhasil tak satu pun yang nyangkut di kepala.
"Sebodoh itukah diriku, batinku merutuki.
"Yo wess, istirahat dulu, kasi badanmu haknya jangan dirampas," ucapan pak Su menyadarkanku akan tindakan yang menzolimi diriku sendiri. Lelaki yang sudah puluhan tahun menjadi imamku itu pun kembali terlelap dalam buai panjangnya.
Kulirik benda putih yang dentingan jarumnya terdengar jelas.
"Pukul 01.12 menit. Rupanya sudah larut malam," batinku.
Jemariku dengan cekatan memungut dan mengumpukkan kertas tersebut dan ku jadikan satu bendel dan meletakkannya di meja kecil pojok ruangan yang sudah syarat dengan beban.
Matahari pagi memancarkan kilau cahayanya yang putih cemerlang. Langit tampak biru, tidak tampak gumpalan awan sedikit pun, burung-burung terbang kesana kemari seolah menari menyambut pagi. Kecerahan alam berbanding terbalik dengan kondisiku. Kekhawatiran tidak bisa menjawab tes skolastik membuatku tidak begitu bersemangat. Namun Allah memang Maha Baik, ada saja jalan kemudahan yang diberikan kepada hamba-Nya yang bersungguh-sungguh. Saat CGP lain mengalami gangguan untuk masuk ke server, alhamdulillah saya mengikuti tes tanpa kendala yang berarti dan bantuan datang dari sana sini.
Kenyakinan itu pula yang membuatku lebih ringan untuk menghadapi tahapan tes selanjutnya. Walaupun saat simulasi mengajar hanya membutuhkan waktu 10 menit dan tes wawancara yang durasinya mencapai dua jam. Kenyakinan akan pertolongan Allah itulah yang membuatku lebih percaya diri.
Kegelisahan mulai muncul saat selesai mengikuti kegiatan sosialisasi LMS dan Lokakarya Perdana. Berbagai keraguan muncul dalam benak. Materi serta tugas yang padat di LMS dengan durasi waktu yang singkat membuatku sedikit pesimis bisa menyelesaikan semua tagihan tepat waktu.
"Insyaallah dengan bantuan-Nya dan niat yang ikhlas kamu bisa melewati setiap tahapan. Lagi-lagi suara Pak Su menenangkanku saat curhatan itu keluar dari bibirku.
Selalu ada rasa penasaran dari setiap sesi yang kujalani. Di setiap modul membuatku terpesona, istilah-istilah baru mulai menghiasi hari-hariku setiap membuka LMS. Selalu ada challenge yang memicu adrenalinku untuk berbuat lebih baik lagi, menjadi pendidik yang mampu mengembangkan potensi siswa sekecil apa pun itu.
Lambat laun tugas di LMS bukan lagi beban bagiku, namun salah satu pintu Ilmu yang bisa membuka dan menambah wawasan atas peranku sebagai seorang pendidik yang sesungguhnya. Dimana seorang pendidik itu bukan hanya mencetak generasi yang pintar secara akademik, namun seorang pendidik itu harus mampu memanusiakan manusia.
Mari jadikan diri kita sebagai bagian dari program ini, karena kita tidak akan tahu manfaatnya jika kita tidak berusaha masuk menjadi bagian dari program guru penggerak.