Langkah demi langkah kaki siswa terhenti saat secara tidak sengaja aku berpapasan dengan pemburu ilmu yang masih belia. Generasi milenial berotak berilian seolah enggan dan takut menghampiriku.
Entahlah...
Kutatap diriku di cermin yang menempel di tembok ruang kerjaku, seolah ingin mencari jawabannya. Mungkinkah wajahku sangar, dengan mata melotot, ataukah kalimat kasar mencaci maki sering kulantunkan pada mereka. Namun semua itu barang langka dan tidak pernah kulakukan. Semakin dalam kucari penyebabnya, namun tak kutemukan juga.
'takut Bu, nanti temen-temen menganggapku anak bermasalah dan nakal' jawaban jujur terdengar dari salah seorang siswa berprestasi. Aku pun menganggukkan kepala. Terjawab sudah pertanyaan yang selama ini selalu bermain dibenakku.
"O, ternyata itu penyebabnya" gumamku dalam hati.
Kalimat itu terus terngiang di telingaku. Mendengar kalimat itu diriku merasa tertampar. Ternyata puluhan tahun kesan itu tetap tidak berubah. Aku sekuat tenaga merubah kesan itu dengan segala kemampuan dan kreasiku, namun ternyata sia-sia. Seolah sudah berurat berakar dalam tradisi yang turun temurun.
'Apakah karena label guru BK itu yang membuat mereka enggan dan takut mendekatiku,' batinku.
Kulangkahkan kaki menuju meja kerjaku. Kuamati setiap pojok ruangan yang dilengkapi kursi sofa, rak buku, cermin, vas bunga yang tertata apik di atas meja dan rak buku. Warna hijau pupus dipadu warna soft sengaja dipilih agar terkesan lebih sejuk.
Tingnong...tingnong...Waktu istirahat telah tiba, it time to have break...
Terdengar himbauan dari pengeras suara. Nampak para siswa berhamburan keluar kelas menuju ke kantin. Aku pun kembali asyik dengan kesibukanku merancang pembelajaran untuk esok hari.
"Assalamualikum," terdengar ucapan yang hampir serempak.
"Aku menoleh ke sumber suara, ternyata para pangeranku." Istilah pangeran sengaja aku pakai untuk para siswa yang memiliki label nakal, susah di atur di beberapa guru bidang studi. Namun bagiku mereka tidak nakal, atau susah diatur, hanya terkadang mereka butuh didengarkan.
Anak-anak inilah yang selalu menghiasi ruangan ku. Mereka dengan setia selalu menyempatkan diri untuk bertandang ke ruangan ku saat waktu istirahat. Hanya sekedar untuk berbagi cerita keseharian mereka.
Aku teringat dengan celetukan beberapa siswa yang takut masuk ruang BK. Materi ini akhirnya menghiasi diskusiku dengan para pangeranku sampai bel istirahat habis. Aku terpana dengan pendapat mereka, di balik label nakal yang disematkan oleh guru lain, justru para siswa merasa lebih nyaman berada di ruang BK karena mereka merasa di dengarkan dan dihargai.
'Tapi bagaimana dengan ratusan siswa lain yang masih takut dengan guru Bimbingan Konseling dan takut berada di ruang BK'? Ini merupakan pekerjaan rumah bagiku dan hal ini tidak mudah untuk merubah image yang sudah melekat di benak mereka, bahwa anak yang masuk di ruang BK identik dengan siswa bermasalah di sekolah.
Alasan itulah yang menyulut semangatku untuk menerima tantangan dari teman saat diajak mengikuti seleksi program guru penggerak. Tahapan seleksi yang begitu panjang, melelahkan diliputi tantangan yang tak sedikit, tidak membuatku patah semangat. Karena aku nyakin banyak ilmu serta pengalaman baru yang bisa aku peroleh dan terapkan di sekolah jika aku bisa lulus di program guru penggerak ini. (Bersambung)

Mantap Bu Haji, mengalir, mengalun, menginspirasi
BalasHapusTerima kasih.
BalasHapusSaya tunggu kelqnjutannya
BalasHapus