Pada
bagian ini, saya akan menjabarkan alasan mendasar mengapa saya, anda dan teman
yang lain mau dan bahkan harus belajar menulis.
a. Walau
Usia Pendek Berharap Berumur Panjang
Rata-rata umur manusia adalah 55-70 tahun.
Setelah kita meninggal sehari, dua hari. Kolega masih sempat mengingat tentang
kita. Seminggu, dua minggu, sahabat dekat masih mengenang kita. Sebulan, dua
bulan mungkin kita hanya diingat oleh keluarga dekat, orang lain sudah
melupakan kita. Enam bulan, setahun hanya pasangan hidup kita yang masih ingat,
bahkan bisa jadi anak kita pun sudah lupa karena mereka kembali sibuk dengan rutinitas.
Saya, anda, kita semua, disaat kita semua sudah tiada, selalu
berharap agar diingat
selamanya sepanjang masa. Tapi apakah itu mungkin dan bagaimana
caranya?
Bagi saya pribadi, itu sangat bisa dilakukan. Tapi permasalahannya
banyak orang yang tidak mau berusaha untuk itu. Mungkin anda bingung dengan
penjelasan saya. Biar tidak membuat anda
semakin bingung. Saya harap anda menjawab pertayaan di bawah ini dengan
jujur.
Mengapa imam-imam besar seperti Imam Syafi’I,
Imam Hambali, Imam Hanafi, Imam Bukhari-Muslim masih diingat sampai sekarang.
Padahal mereka sudah meninggal beberapa abad yang lalu, tapi Namanya masih
dikenang hingga hari ini?
“Karena mereka MENULIS.” Itu JAWABANNYA.
Mereka mengikat ilmu yang mereka pelajari dengan cara menulis. Mereka
menuangkan ilmu yang mereka miliki kedalam karya-karya yang masih bisa kita nikmati
sampai saat dan masih menjadi rujukan bagi generasi sekarang dan yang akan
datang. Kita tidak pernah bertemu dengan mereka, namun kita mengenal mereka
melalui kitab-kitab yang mereka tulis. Itulah sebabnya nama mereka harum sampai
hari ini. Inilah yang dinamakan usia boleh pendek namun umur panjang.
BAGAIMANA DENGAN KITA?.
Bandingkan dengan diri kita sendiri.
Kita ingin dikenal sepanjang masa, tapi kita tidak pernah
berusaha untuk menghasilkan sesuatu yang membuat kita dikenal oleh generasi
mendatang.
MENGAPA BISA BEGITU?
Karena kita tidak pernah mau berusaha. Kita terlalu banyak
mengeluh. Kita terlalu banyak alasan, yang membuat kita tidak pernah bisa
menulis satu kalimat pun.
COBA ANDA BAYANGKAN!
Kita sekolah mulai dari usia 6 tahun, SD kita tempuh selama 6
tahun, SMP/MTs selama 3 tahun, SMA selama 3 tahun, perguruan tinggi 3-5 tahun bahkan
ada yang masuk paud umur 4 tahun. Artinya kita menuntut ilmu hampir 17 tahun.
Tapi mengapa kita tidak masih mengaggap diri kita tidak bisa menulis. Memang
selama 17 tahun kita mencari ilmu, kita tidak pernah diajarkan menulis?
Lalu apa yang terjadi selama 17 tahun?
Saat kita sekolah, kita sempat menulis ilmu itu
di buku. Tapi seiring berjalannya waktu saat kita selesai ulangan dan diberikan
buku rapot. Kita menganggap ilmu itu sudah tidak perlu lagi, kemudian ilmu itu
akan kita jual kiloan kepada pengumpul rongsokan. Seolah-olah ilmu yang kita
peroleh dengan susah payah hanya dihargakan 1 kg Rp 3000.
Boleh saja ilmu yang dulu diperoleh itu kita tulis
dibuku, dan hak anda menjual kepada pengumpul rongsokan secara kiloan. tapi
usahakan ilmu itu sudah disalin ke laptop atau ke ponsel anda dan usahan di
posting di media sosial yang anda miliki.
Suatu saat nanti saat tulisan anda sudah banyak dimedia sosial,
maka anda akan bisa terbitkan menjadi buku karya anda sendiri dan akan
terpajang di rak perpustakaan, baik perpustakaan rumah, sekolah atau toko buku.
Dengan cara seperti itu, ilmu yang anda tuntut
selama 17 tahun insyaallah menjadi ilmu yang bermanfaat dan akan menjadi
warisan generasi mendatang. Mari mulai menata diri dan memotivasi diri untuk
menghasilkan karya tulis agar kita bisa dikenang lewat tulisan.
Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin jika kita
mau berusaha dan berikhtiar. Marilah kita mulai dari diri sendiri, mulai
hari ini, mulai dari hal kecil untuk mengikat semua ilmu yang kita peroleh
dengan cara menuliskannya dan bagikan kepada orang lain dengan memanfaatkan
tehnologi yang ada. Zaman sekarang tehnologi sudah berkembang pesat, ilmu yang
kita pelajari akan lebih mudah kita dapatkan dan kita bagikan lewat ponsel,
internet.
SELAMAT MENCOBA.....
b.
Termotivasi
dari beberapa Queto
Ø
Queto pertama adalah “Menulis
ibu kandung peradaban”
Kalimat
ini keluar dari ibu Rahma, seorang penulis buku motivasi muslimah. Beliau
mengatakan bahwa menulis itu ibaratnya ibu. Seorang ibu akan mendidik
anak-anaknya menjadi generasi yang hebat dan unggul baik dari segi agama maupun
dari sisi dunia.
Menulis
juga seperti itu, apa yang kita tulis hari ini akan membentuk peradaban bagi
generasi-generasi yang akan datang. Usia kita terbatas. Kita tidak bisa
mendidik mereka langsung seperti seorang ibu. Tapi kita bisa mendidik generasi
mendatang lewat tulisan dan karya kita yang akan mereka baca nantinya.
Kita
ambil contoh Kitab Al-Quran. Umat sekarang tidak akan pernah mengenal dan tahu
kandungan Al-Qur'an, jika dulu kitab Al-Qur'an tidak di tulis pada masa
Khalifah Usman Bin Affan.
Ø Queto
yang kedua “Ilmu harus diikat”
Ilmu harus diikat, kalimat itu yang
terpatri dalam ingatan saya. saat Ustad Sholihin memberikan materi di kelas
menulis online. Beliau menyampaiakan bahwa, banyak ilmu sudah kita pelajari,
namun karena sifat manusia yang sering lupa terkadang membuat Ilmu yang kita
pelajari sering hilang. Agar ilmu itu tidak hilang maka harus diikat dengan
cara menuliskannya kembali. Beliau sempat mengutip ucapak dari Abu hatif
ar-rozi pernah mengatakan:
a. Tulis
yang terbaik dari apa yang Anda dengar.
b. Hapalkan
yang terbaik dari apa yang anda tulis.
c. Sampaikan
yang terbaik dari apa yang anda pelajari
Ø Queto
ketiga “Sukses itu adalah sebuah usaha”
Kutipan motivasi dari pak Cahyadi
Takariawan, pembina Kelas Menulis On line. Berapa usia anda sekarang?
Bisa saya pastikan belum mencapai sembilan puluh tahun, saat membaca tulisan
saya ini.
Apakah anda telah menjadi orang sukses
pada usia anda sekarang? Jika anda merasa belum sukses, jangan khawatir dan
jangan pernah berputus asa. Ternyata sukses bisa datang kapan saja, bisa saat
usia muda atau usia tua.
Jangan mengira sukses itu adalah sebuah hasil, karena
sesungguhnya sukses itu adalah tentang bagaimana kita berusaha dan terus
berusaha menjadi orang bermanfaat.
Tanamkan
buah pikiran maka anda akan menuai tindakan.
Tanamkan
tindakan maka anda akan menuai kebiasaan.
Tanamkan
kebiasaan maka anda akan menuai karakter.
Tanamkan karakter maka anda akan menuai keuntungan
Membaca masa lalu sebagai muhasabah
Melukis Mada depan sebagai harapan
Mengisi hari ini dengan akhlak terpuji
Manusia
bisa belajar banyak hal dari tulisan-tulisan yang bertebaran di dunia ini, asal
kita mau membaca dan merenungi kandungan dari tulisan tersebut.
