RSUP Provinsi
Kamis, 28 Januari 2021
Memandang wajahmu yang semakin pucat
Fisikmu yang semakin lemah terbaring tanpa daya. Napasku sesak, mataku mulai berkaca-kaca, suaraku tertahan di kerongkongan tidak mampu merangkai kata. Kulangkahkan kaki berusaha menjauh dari ranjang pasien, menghapus butiran bening yang mulai mengintip ingin keluar dari netraku. Aku tidak ingin menampakkan kesedihan dan kepiluan yang aku rasakan. Aku berusaha tetap tersenyum dan tegar.
Saat kondisi seperti ini, batinku meronta ingin rasanya memegang kitab suci-Mu, namun kondratku sebagai wanita, tak mengizinkanku melanyunkan ayat-ayat suci-Mu itu.
Hanya Lantunan Doa dan harap keluar dari relung kalbu yang terdalam
Memohon keajaiban kepada sang Khaliq Ilahi Robbi.
Sudi kiranya memberi kesempatan waktu sedikit lagi agar bisa terbebas dari jerat mahlukmu yang tak tampak
Suaramu terdengar lirih seolah menyiratkan pesan ingin meninggalkan amanah yang harus kujalani nantinya. Satu demi satu engkau menyebutkan tunggakan hutang, walau tak banyak namun itu sangat berat nantinya. Dia mengingatkan jumlah bilangan sholat yang tak bisa dia kerjakan secara sempurna. Napasnya terengah-engah, tanpa menunggu lebih lama lagi, bantuan oksigen kupasangkan kembali agar napasnya bisa kembali lega.
Sembari menurunkan posisi ranjang yang sempat ku naikkan. Mataku melirik ke monitor yang terpasang di sisi ranjang. Tertera angka 151/90 , tempe 77 dan ecg nya 110. Entah apa maksud angka-angka tersebut. Namun bagiku ada beberapa angka yang berubah. Berlahan napas yang tadinya berat tampak sedikit tenang.p
Sembari memencet mesin tasbih walau hampir tak terdengar senandung zikir masih terucap lewat bibirnya yang sudah tampak pecah-pecah.
Untuk beberapa saat dia terlelap, namun rasa mual yang membuatnya terjaga. Dia pun langsung memberikan kode agar menyiapkan kantong plastik mengantisipasi jika dia benar-benar muntah.
"Minum," suaranya terdengar lemah.
Kusodorkan air gelas narmada, dia pun menyeruput satu tegukan. Wajahnya menggeleng menandakan agar memberinya air yang lain.
Aku pun mencoba menawarkan susu Nestle Bear Brand, dia menyetujui dengan anggukan .
Sedotan putih menempel di bibirnya yang tampak pucat, dua tegukan masuk. Ada rasa lega melihatnya mau minum lebih banyak tanpa dibarengi dengan mual. Tegukan ketiga masuk hingga menyisakan setengah botol.
Kupencet huruf demi huruf di gawaiku mencoba menuliskan semua pesan yang di amanatkan tadi sebagai bahan pengingatku nantinya. Kuabadikan semuanya lewat untaian kata.
