Selasa, 19 Nopember 2024 tepatnya di Aula TKN 1 Labuapi akan digelar lomba Bewaran Jenjang TK. Bewaran merupakan salah satu budaya masyarakat Lombok Barat yaitu bercerita menggunakan bahasa Sasak. Kegiatan ini sering digunakan oleh orang tua masyarakat Sasak zaman dahulu untuk menanamkan karakter kepada anak-anak mereka. Agar lomba Bewaran ini semakin seru maka seluruh peserta dilengkapi oleh properti masing-masing sesuai dengan kisah atau cerita yang akan dibawakan nantinya.
Kegiatan ini bertujuan untuk lebih membudayakan bahasa Sasak di dunia pendidikan. Kegiatan yang dihadiri oleh Ketua PGRI Kabupaten Lombok Barat, Pengawas TK, Ketua IGTKI Kabupaten, Ketua K3STK, Kabid PAUD dan PNF Dikbud Kabupaten Lombok Barat. Kegiatan ini terlaksana berkat kerjasama antara IGTKI, PGRI dan K3STK Kabupaten Lombok Barat dalam menyambut Hari Guru ke 79 dengan tema Guru Bermutu Indonesia Maju.
Kegiatan yang dibuka oleh Bapak Ketua PGRI Kabupaten Lombok Barat, Bapak Tajudin menyampaikan harapannya agar kegiatan ini menjadi awal bagi guru di sekolah untuk memperkenalkan budaya dan penanaman karakter siswa sejak dini lewat dongeng atau bewaran. Tidak itu saja kegiatan ini juga sebagai upaya sekolah dalam memperkenalkan bahasa Sasak madya, permainan tradisional sehingga tidak terlupakan oleh zaman. Yang tidak kalah pentingnya semua pihak agar meningkatkan kolaborasi dengan semua stakeholder terkait agar semua program yang sudah direncanakan bisa berjalan sesuai dengan harapan paparnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Kabid PAUD dan PNF yang mengharapkan agar hal ini menjadi bahan sosialisasi guru kepada orang tua, agar guru maupun orang tua tidak malu memasyarakatkan istilah sasak kepada peserta didik. Istilah yang digunakan oleh orang tua kita terdahulu seperti penyebutan istilah Papuq, inak, amaq dsbnya.
Kegiatan ini diikuti oleh 9 orang yang berasal dari 9 kecamatan yang ada di Lombok Barat. Juri dalam kegiatan lomba Bewaran ini adalah Bapak Lalu Munasib dan Bapak Zulkarnain.
Peserta pertama menceritakan kisah inaq tegining Amaq teganang yang dibawakan oleh dua orang guru dimana satu orang bertugas membawakan cerita dan satu lagi memainkan alat. Ini perwakilan dari Kecaman Lingsar. Kisah ini menggunakan bahasa Sasak.
Peserta kedua menceritakan kisah Batu Golok. Kisah ini menceritakan sepasang suami istri yaitu Amaq lembain dan inaq lembain dari kecamatan Gunung Sari. Kisah ini menceritakan asal usul nama desa Montong Teker, Desa Dasan Batu dan Desa Gembong.
Peserta ketiga mengisahkan tentang timun bongkok. Cerita ini mengisahkan tentang persaudaraan dua orang kakak beradik yang memiliki ibu tiri. Peserta ini perwakilan dari kecamatan Gunung Sari
Peserta keempat merupakan perwakilan dari kecamatan Batulayar. Peserta menceritakan kisah tegodeq-godeq dan tetuntel-tetuntel.
Peserta kelima berasal dari Kecamatan Lembar membawakan cerita tegodeq-godeq dan tetuntel-tuntel. Kisah ini dibawakan oleh dua orang dengan perincian tugas, satu orang bertugas membawakan cerita dan satunya lagi berperan untuk memeragakan alat.
Peserta keenam membawakan kisah tentang Cupak Gurantang, perwakilan dari Kecamatan Gerung. Kisah ini dibawakan oleh dua orang, satu orang bertugas membawakan cerita dan satu orang untuk memperagakan kisah yang diceritakan.
Peserta ketujuh perwakilan dari kecamatan sekotong. Menceritakan tentang kisah tegodeq-godeq dan tetuntel-tuntel.
Peserta kedelapan merupakan perwakilan dari Kecamatan Kediri yang membawakan kisah tentang Timun Bongkok yang mengisahkan tentang sepasang suami istri yaitu Amaq Kangkung dan Inaq Lembain. Kisah ini dibawakan oleh dua orang. Satu orang bertugas menceritakan dan seorang lagi bertugas memainkan properti terkait kisah yang dibawakan.
Peserta terakhir berasal dari kecamatan Labuapi yang akan mengisahkan tentang dua ekor kura-kura yang bernama Kurana dan Kurani. Kisah ini dibawakan oleh dua orang dengan pembagian tugas, satu orang menceritakan kisah Kurana dan Kurani dan seorang lagi memainkan properti.
Setelah menyaksikan kebolehan dan kemampuan para guru dan kepala sekolah TK dalam membawakan kisah-kisah masyarakat suku Sasak menggunakan bahasa Sasak maka hal ini perlu diberikan apresiasi dan ini menjadi aset sekolah untuk mulai menghidupakan kembali strategi dongeng atau bercerita kepada peserta didik. Karena ini merupakan salah strategi dalam meningkatkan literasi serta mengasah kemampuan imajinasi siswa dan para guru.
Harapan ke depan akan semakin banyak kegiatan yang serupa dan dilakukan tidak saja untuk jenjang kabupaten namun bisa di gagas juga di jenjang sekolah maupun gugus.
Menutup artikel ini kami ingin menginformasikan hasil penilaian juri tentang pemenang lomba Bewaran Jenjang TK Kabupaten Lombok Barat yaitu
Juara 1 diraih oleh perwakilan Kecamatan Labuapi
Juara 2 diraih oleh perwakilan Kecamatan Gunung Sari
Juara 3 diraih oleh perwakilan Kecamatan Gerung
Harapan 1 diraih oleh perwakilan Kecamatan Lingsar
Harapan 2 diraih oleh perwakilan Kecamatan Kediri
Harapan 3 diraih oleh perwakilan Kecamatan Sekotong























