Dentuman kembang pagi terdengar sahut menyahut di tengah keheningan malam. Sayup-sayup terdengar gelak tawa dari masyarakat yang menunggu pergantian tahun dengan meluncurkan kembang api. Seolah ingin menggambarkan bahwa satu tahun ke depan mereka akan baik-baik saja dalam menjalani kehidupan yang penuh lika liku ini.
Bisa dianalogikan ...
Gunung dari kejauhan semua tampak hijau dan mempesona, namun setelah mendekat dan naik ke gunung baru kita akan banyak menemukan rintangan yang tak terduga dan butuh perjuangan untuk mencapai puncak yang kita inginkan.
Begitulah gambaran singkat akan tahun depan ini, kita tidak pernah tahu, selama menjalani hari-hari di tahun depan akan menentukan rintangan dan kendala seperti apa. Satu hal yang paling penting, tanamkan di dalam diri bahwa, badai pasti berlalu. Tetaplah berjalan pada akhirnya kita akan bisa mencapai tujuan yang sudah direncanakan.
Mengawali hari di tahun 2024 menyeret langkah kami menuju sebuah pantai yang berada di ujung selatan Lombok Timur. Rasa penasaran akan keindahan pantai yang membuat banyak pengunjung beramai-ramai mengunjungi salah satu destinasi wisata yang ramai dibicarakan di media sosial. Hari terakhir libur sekolah menjadi alasan lain tempat ini di serbu oleh pengunjung karena besok semua siswa dan para guru kembali melaksanakan aktivitas pembelajaran di sekolah.
Pantai Kura-Kura yang berada di wilayah kecamatan Jerowaru saat ini, sedang ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal. Di sebut pantai Kura-Kura karena bentuk gundukan yang berada di tengah laut dan menyerupai kura-kura. Tidak itu saja, gundukan gunung yang berada di kiri kanan pantai membuat keindahan ciptaan Ilahi Robbi ini semakin memukau. Pinggir pantai yang dihiasi oleh relif-relif yang terbentuk secara alami membuat pantai tampak semakin eksotik. Semakin sore pengunjung semakin ramai berdatangan
Sekitar dua kilo dari pantai Kura-Kura pengunjung bisa melakukan ziarah ke salah satu waliyullah yang dulu menyebarkan agama Islam di wilayah Lombok Timur yaitu Makam TGH. M. Sibawaih Mutawalli. Makam yang berlokasi di dusun Pemongkong, Jerowaru ini berada di atas bukit. Hampir setiap hari makam ni ramai dikunjungi oleh penziarah baik dari masyarakat Lombok maupun dari luar daerah.
Makam pengasuh Pondok Pesantren Yayasan Darul Yatama Wal Masakin (YADAMA) Jerowaru, TGH Sibawaih di Bukit Ujung Kemalik, Desa Pemongkong, Kecamatan Jerowaru kini menjadi tempat yang ramai didatangi para peziarah.
Posisi makam yang berada di perbukitan membuat salah satu hewan yang identik tinggal di pegunungan juga ramai berkeliaran di sekitar makam. Binatang-Binatang ini seolah ikut menjaga area makam. Para pengunjung tidak perlu takut akan digigit oleh para monyet. Binatang ini terlihat bersahabat dengan pengunjung. Banyak pengunjung yang menyisihkan makanan yang dibawa dan di berikan kepada para monyet yang mondar mandir di sekitar bangunan makam.
Nilai seseorang akan terlihat kala dia sudah meninggal dunia. Jika banyak orang yang selalu menyebutnya atau mengunjngi makamnya itu menjadi salah satu bukti bahwa kita orang baik. Semoga kita pun bisa mengikuti jejak para ulama yang selalu dicari dan dikunjungi walaupun sudah lama meninggalkan dunia. Aamiin Ya Robbal Al-Amin.





