Catatan harian pengawas
Kemajuan suatu sekolah tidak lepas dari sentuhan tangan kepala sekolah serta kolaborasi dari pada guru dan berbgai pihak. Sekolah memegang peranan penting dalam menanamkan karakter dan dalam melestarikan budaya setempat kepada peserta didik sebagai cikal bakal generasi masa depan. Dengan merancang dan melaksanakan budaya daerah setempat diharapkan peserta didik mengetahui makna yang terkandung di dalamnya dan tidak gampang tergerus dengan perkembangan zaman.
Hal inilah yang dilakukan oleh Ibu Bq Titin, sapaan akrab dari kepala sekolah TK Widya Kumara yang berlokasi di Lingkungan Babakan, Desa Gerung, Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat. Lokasi sekolah yang berada di tengah mayoritas masyarakat beragama Hindu, kepala sekolah dan rekan guru dengan dukungan yayasan mengangkat kegiatan Otonan sebagai Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
Otonan adalah upacara tradisional dalam masyarakat Bali yang dilakukan untuk memperingati hari lahir menurut agama Hindu yang dirayakan setiap 210 hari atau setiap enam bulan sekali sesuai dengan kalender Bali.
Kegiatan otonan ini dihadiri oleh pengurus yayasan, kepala sekolah, para guru, orang tua siswa dan seluruh peserta didik dengan melakukan berbagai rangkaian acara, mulai dari melakukan arak-arakan di sepanjang jalan menuju sekolah yang diikuti oleh semua unsur dan dilanjutkan dengan sambutan maupun pengarahan yang disampaikan oleh pengawas TK Hj. Marwanah dan perwakilan dari yayasan Widya Kumara.
Dalam sambutannya, pengawas sebagai perwakilan dinas memberikan apreasisi kepada pihak sekolah untuk mengangkat budaya daerah setempat, agar budaya yang ada di tengah masyarakat tetap terjaga.
Kegiatan semakin seru kala semua peserta yang hadir melakukan Megibung bersama di halaman sekolah. Tradisi megibung merupakan kegiatan makan bersama dalam satu wadah dengan cara duduk meligkar yang diwariskan leluhur mengandung nilai-nilai kebersamaan, yang bertujuan untuk menjalin silaturrahmi dan mempererat persaudaraan.
Menurut informasi dari pengurus yayasan, KB/TK Widya Kumara didirikan pada tahun 2005 di prakarsai oleh Pak Ketut Pancaka dan Pak Nengah Tiangga. Dilatar belakangi oleh belum ada kelompok belajar di lingkungan tersebut dan banyaknya anak-anak yang ingin sekolah. Sehingga atas inisiatif dan persetujuan tokoh masyarakat maka proses pembelajaran kala itu di pusatkan di Balai Banjar.
Namun karena padatnya kegiatan Di balai Banjar membuat proses pembelajaran sering libur. Sehingga Pak Ketut Suncaka merelakan rumahnya untuk dijadikan sebagai lokasi sekolah sampai saat ini.
Walaupun berada di tengah perkampungan masyarakat Hindu, namun ada beberapa siswa yang beraga Islam, Kristen dan Muslim. Dan tetap menjaga toleransi antar sesama walaupun agamanya berbeda-beda.
Tidak hanya itu saja TK Widya Kumara juga melaksanakan kegiatan rutin seperti tarian tradisional maupun tari kreasi, mewarnai maupun kegiatan lainnya. Sehingga tidak jarang sekolah ini menyabet piala dari lomba menari yang diadakan di berbagai tempat.
Keunikan lain yang miliki oleh TK Widya Kumara adalah kala proses pembelajaran di kelas menggunakan dua bahasa yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris sebagia bahasa pengantar. Bahkan saat berdoapun menggunakan dua bahasa tersebut.
Semoga terobosan yang dilakukan oleh TK Widya Kumara bisa diadopsi oleh sekolah lain untuk mengangkat budaya setempat, agar generasi muda memahami pentingnya melestarikan budaya daerah.













Benar sekali kolaborasi yang indah antara kepala sekolah dan semua guru serta warga sekolah menjadi salah satu kunci suksesnya sebuag program...terkhususnya penanaman karakter....luar biasa.....
BalasHapusLuar biasa...sukses terus bu Hj.🙏
BalasHapusMantap ini yang dinamakan kerja sama dalam berkolaborasi. Sebagai penggerak rekan sejawat untuk menyambut Indonesia Emas 2045.
BalasHapus