Rasa penasaran akan cerita teman membuatku ingin membuktikan sendiri kebun kurma yang ada di wilayah Gangga Kabupaten Lombok Utara.
Membutuhkan waktu kurang lebih dua jam dari tempat kediaman kami di Gerung, Kabupaten Lombok Barat untuk bisa sampai di Kebun Kurma Jugil Di Dusun Jugil, Desa Sambik Bangkol Kec. Gangga.
Kedatanganku bersama keluarga di sambut oleh pengelola kebun sembari memberikan penjelasan terkait dengan pengelolaan kebun. Kebun dengan luas kurang lebih 70 are ini baru ditanami kurma sekitar 35 are. Rata-rata umur kurma baru mencapai enam tahun dan sudah menghasilkan buah sejak tahun lalu. Ada empat jenis kurma yang di tanam yaitu Kurma Barehe, Kurma Sukari, Kurma Alas dan Kurma yang berasal dari Tunisia.
Tidak itu saja pak Suhirman sebagai ketua dari tim penyakap menjelaskan bahwa butuh waktu delapan tahun untuk mempelajari bagaimana merawat pohon kurma agar bisa menghasilkan buah sesuai harapan.
Kebun Kurma Jugil ini menggunakan pola ukuwah Datu Pola Nyakap atau dengan kata lain bagi hasil antara pemilik modal, pemilik lahan dan para pekerja. Dengan menggunkan pola ini masing-masing pihak, tidak merasa dirugikan, namun saling membutuhkan dan menguntungkan.
Kami juga mendapatkan informasi bahwa buah kurma yang di jual adalah buah kurma yang sudah berwarna kuning dengan kisaran harga 250-400 ribu rupiah perkilo. Harga yang pantastis untuk buah kurma yang bukan merupakan barang baru di negara kita. Namun seperti yang dijelaskan oleh Pak Rudi salah satu tim pengelola mengatakan bahwa, mahalnya harga ini lebih kepada sensasi memetik langsung buah kurma.
Pak Siarsah salah seorang pengelola mengatakan bahwa bibit kurma yang pertama di bawa langsung dari Inggris oleh Pak Dolah sebagai pembina Kebun Kurma.
Tidak sedikit pengunjung yang datang kesini untuk bisa melihat dan menyaksikan langsung bagaimana pengelolaan kubun kurma yang ada di KLU. Pengunjung pun tidak perlu khawatir saat masuk kesana karena tidak dipungut karcis masuk, hanya di sediakan kotak donasi bagi yang mau menyumbang.
Satu lagi catatan yang perlu menjadi perhatian kita saat kesana, yaitu pengunjung tidak diperkenankan untuk memetik atau mencicipi buah kurma secara gratis. Kita hanya diperkenankan memetik jika pengunjung akan membeli langsung. Setelah puas mengelilingi kebun kurma kamipun akan mengunjungi pemandangan alam yang lebih menakjubkan lagi.
Keseruan kami berlanjut kala kami mengunjungi destinasi wisata Air Terjun Kertagangga yang berlokasi sekitar 12 kilo dari Kebun Kurma Jugil. Walaupun lokasinya berada di ketinggian, namun Pengunjung tidak perlu khawatir karena akses jalan menuju kesana sudah menggunakan aspal hotmik.
Biasanya air terjun identik dengan menaiki ratusan anak tangga atau menyusuri jalan setapak, namun Air Terjun Kertagangga pengunjung hanya membutuhkan waktu kurang lebih 6 menit dari lokasi parkir, menyusuri jalan dan anak tangga yang tidak terlalu terjal agar bisa menikmati indahnya air terjun.
Di tempat ini kita bisa merenungkan betapa hebatnya Sang Pencipta yang sudah menciptakan alam semesta dengan begitu banyak keindahan yang membuat kita takjub dan terpesona.
Kala mentari sudah condong ke Barat kekaguman kami pun kembali tertuju kepada ciptaan Sang Khalik berupa hamparan Laut yang luas membentang di wilayah Malimbu, Kec. Pemenang, KLU.
Karena saya tidak tahu nama pantainya, nama saya lebih sering menyebutnya dengan pantai miring, karena lokasinya sangat dekat dengan hotel miring yang merupakan dampak dari gempa bumi yang pernah terjadi di Lombok Tahun 2018. Hotel inilah sebagai tanda yang biasanya saya jadikan patokan jika ingin berkunjung ke pantai tersebut.
Posisi pantai yang diapit oleh dua bukit di sebelah kiri kanan, membuat ombak tidak terlalu besar. Sehingga pantai ini selalu ramai dikunjungi pada akhir pekan. Pengunjung tidak perlu khawatir jika tidak membawa makanan dari rumah. Pengunjung bisa menikmati kuliner yang banyak di jual oleh para pedagang di sepanjang bibir pantai dengan harga terjangkau. Seperti ikan bakar, pelecing kangkung, pop mi, minuman serta makanan ringan lainnya.
Usai menikmati keindahan Sang Pencipta, kami pun pulang untuk beristirahat menikmati kelamnya malam.
Terima kasih Tuhan atas segala nikmati-Mu yang tak terhingga ini

















