Tawuran merupakan salah satu peristiwa yang sering terjadi di masyarakat. Tawuran tidak saja terjadi di kalangan remaja, namun kita temukan juga terjadinya tawuran antar suku atau antar kelompok tertentu.
Tawuran biasanya dipicu oleh banyak hal antara lain karena memiliki rasa solidaritas tinggi terhadap kelompoknya, adanya kesalah pahaman yang bisa memicu perselisihan. Di samping itu juga tawuran disebabkan karena gengsi dan harga diri tinggi terutama bagi laki-laki. Mereka beranggapan bahwa lelaki sejati adalah lelaki yang mampu memenangkan pertarungan secara fisik. Sementara lelaki yang tidak mau ikut tawuran biasanya dianggap pecundang. Lebih jauh lagi, lelaki yang tidak mau ikut tawuran justru malah akan mendapatkan diskriminasi dari kelompok tersebut.
Kondisi ini menjadi tanggung jawab bersama agar kejadian tawuran tidak terjadi di masyarakat. Untuk menghindari hal tersebut maka perlu dilakukan beberapa strategi antara lain membangun komunikasi yang efektif antar kedua kelompok yang berselisih, membentuk kegiatan-kegiatan positif di tengah masyarakat dan lingkungan sekolah sehingga masyarakat maupun para siswa memiliki wadah untuk menyalurkan kreatifitas yang dimilikinya.
Tidak itu saja, peran keluarga sebagai sekolah pertama dan utama bagi seorang anak menjadi penentu seorang anak ikut tawuran atau tidak. Jika dalam keluarga penanaman karakter itu dimulai sejak dini dan dilakukan secara kontinyu dan berkesinambungan sehingga pada akhirnya akan menjadi suatau pembiasaan. Sehingga bisa dipastikan bahwa seorang anak tidak akan melakukan kegiatan yang tidak ada manfaatnya.
