Catatan harianku
Makam Keramat nama yang disematkan untuk makam yang ada di wilayah Cemara, Kecamatan Lembar. Ada yang unik dari makam ini. Biasanya makam berada di daratan namun makam keramat yang biasanya dikenal oleh masyarakat Lombok ini letaknya ada di tengah laut.
Lokasi makam yang ada di tengah laut mengharuskan para penziarah yang ingin kesana, maka dia harus menyebrang menggunakan Sampan atau motor boad dengan tarif 5000 rupiah perorang jika banyak orang. Tapi jika hanya berdua atau bertiga maka biayanya berbeda.
Untuk mencapai lokasi makam keramat, pengunjung bisa menggunakan dua jalur yaitu bisa melalui jalur punyahan dan jalur pantai Cemara. Jika lewat jalur puyahan pengunjung harus menyebrang menggunkan sampan. Namun jika lewat jalur pantai Cemara, pengunjung bisa langsung sampai lokasi dengan sepeda motor atau mobil.
Untuk mendapatkan gambaran tentang keberadaan makam ini saya pun mencoba mengumpukan informasi dari Baiq Nursiah, putri dari Almarhum Dursiah yang semasa hidupnya menjadi juru kunci makam.
Makam keramat ini sebenarnya dulu berada di daratan namun karena kondisi air laut yang terus abrasi lokasi makam ini terkikis dan dipenuhi air dan lama kelamaan lokasi makam berada di tengah laut. Baiq Nursiah menuturkan bahwa makam keramat ini adalah makam dari seorang waliyullah yang pada zaman dahulu pernah menyebarkan agama Islam di Lombok.
Tidak jauh dari makam keramat terdapat juga satu makam dari seorang wanita yang diberi nama Makam Srife Muzli. Makam ini berada di antara rimbunnya hutan bakau.
Menurut informasi dari Baiq Nursiah makam Srife Mazuli ini baru dibuka untuk masyarakat umum. Karena makam ini belum lama ditemukan di antara rimbunya hutan bakau.
Ada satu pengalaman diluar nalar yang saya alami saat berkunjung ke makam Srife Mazuli. Usai memanjatkan doa kepada Sang Pencipta, saya pun mengabadikan kondisi makam Srife Muzli dengan mengambil beberapa foto dan rencananya akan saya jadikan sebagai latar tulisan saya di blog. Namun alangkah kagetnya saya. Setelah artikel selesai saya tulis dan memindahkannya ke blog pribadi, sebelum saya posting saya ingin menyematkan foto makam tadi di bagian depan sebagai latar tulisan. Namun berkali-kali saya periksa satu persatu Foto Makam Srife Mazuli yang sempat saya ambil tadi tidak ada satu pun di dalam galeri hp saya. Sementara foto lain yang sempat saya ambil di sekitar makam dan foto makam yang ada di tengah laut masih tersimpan dan semuanya lengkap. Hanya foto makam Srife Mazuli saya yang tidak ada seolah hilang lenyap.
Dalam benak saya bergumam
"Mungkinkah sosok Srife Muzli ini tidak berkenan dirinya di ekspos ke dunia luar walaupun itu hanya berupa foto makamnya."
Bagi saya ini merupakan peristiwa langka dan sedikit aneh yang saya alami kala berkunjung kesana.
Sembari menikmati nikmatnya secangkir Energen saya terus menggali informasi tentang makam tersebut. Tidak begitu banyak orang berjualan di area makam. Kondisi ini membangkitkan rasa penasaranku. Aku pun mencari tahu penyebabnya.
Penghuni dari area makam ini hanya terdiri dari empat kepala keluarga yang merupakan keturunan dari juru kunci makam yaitu Almarhum Darsah, sementara pedagang lain tidak diperkenankan berjualan di sana. Hanya sesekali tampak dagang bakso cilok atau es cream yang menggunakan sepeda motor yang diperkenankan berjualan di sekitar sana.
Menurut informasi keluarga dari juru kunci almarhum Darsah yang sekarang menjadi pengelola area makam menjelaskan pengunjung yang datang berasal dari berbagai wilayah. Tidak saja dari wilayah Lombok namun ada juga yang berasal dari luar Lombok. Baiq Nurisah putri dari Almarhum Darsah dan sebagai juru kunci area ini hanya ditempati oleh keturunan dari Almarhum Darsah yang berjumlah sekitar 15 jiwa.
Walaupun lokasi ini sering dikunjungi oleh banyak penziarah, namun listrik belum masuk di sana. Untuk mengatasi hal tersebut maka 4 kepala keluarga yang tinggal di sini akhirnya sepakat membeli listrik tenaga Surya.
Menjelang siang saya pun meninggalkan area makam dengan berbagai perasaan berkecamuk di kepala atas peristiwa aneh yang saya alami hari ini.



