Engkau Tidak Pernah Meninggalkanku

Mengejar Impian


Catatan harian seorang hamba

Aku tidak tahu harus merangkai kata darimana? Namun ku coba menuangkan asa lewat rangkaian kata, walau tanpa makna. Hanya sebagai bukti aku pernah ada dan goresan salah satu perjalanan hidup dari anak manusia. 


Kembali aku menjejakkan kaki di Bandara Suta. Namun kali ini bukan mengemban tugas negara. Tapi demi mengantar putri tercinta menimba ilmu di kota Batavia. 


Aku tidak ingin menampakkan kebingunganku di depannya, walau pun dalam batin terdalam rasa kekhawatiran dan kurang percaya diri itu muncul. 


Setelah menunggu beberapa lama, koperku dan koper si cantik akhirnya muncul juga di lokasi pengambilan bagasi. Hanya tempat sholat yang muncul dibenak ku kala semua barang sudah lengkap. 


"Maaf mas, masjid ada di sebelah mana ya?" Kalimat pertama yang muncul saat aku bertemu dengan salah satu pegawai bandara. Ingin rasanya diriku cepat bersungkur, bersujud di atas sajadah, mohon petunjuk apa yang harus kami lakukan untuk sampai ke tempat kampus putriku yang kami belum tahu sama sekali lokasinya. Hanya bermodal kenyakinan "Allah tidak akan meninggalkanku dan selalu ada bersamaku. Membuat batinku tenang. 


Rintik hujan Batavia menemani perjalanan kami menggunakan gocar, bertemu dengan pengemudi yang baik hati dan bersedia mengantarkan kami sampai di kampus. Rintik hujan masih berguguran saat grab yang kami tumpangi sampai di depan gedung Rektorat Poltekes Kemenkes Jakarta II. Bermodalkan Wa, ku coba menghubungi seorang gadis yang sempat ku kenal lewat wa. Mahasiswa asal Riau ini membalas dengan jawaban yang sangat ku harapkan. Bahwa dia akan menungguku di Kampus Poltekes Kemenkes Jakarta II. Walaupun aku belum pernah bertemu langsung dan tidak tahu wajahnya seperti apa. Hal ini membuatku agak sedikit tenang. 

Senja tidak tampak karena masih terselimuti oleh awal tebak. Terlihat seorang gadis berlari-lari di tengah guyuran hujan menghampiriku dan putriku yang berniat mencari masjid yang ada di area kampus. Tampak gadis cantik berwajah putih, asal Riau berlari kecil menghampiri kami. Dengan tangan terbuka dia pun mengantarkan kami ke kamar kost. 

"Ibu yang dari Lombok itu Yaa?, Suaranya lembut menyapa. Terpancar aura kecantikan dari balik jilbab terlihat jelas walau basah terkena hujan. 

"Ya, Nak Aurora?" Jawabku spontan. Hatiku terasa disiram es, rasa syukur kembali menggema di relung hati terdalam. Kekhawatiran yang menyelimuti sirna sudah. 

"Maaf ibu, kebetulan Aurora ada rapat di ruang BEM.". Ucapnya lembut. Sembari berjalan dia pun mengarahkan kami ke rumah kost yang akan disewa oleh putriku nantinya.

"Ayo Bu, saya antar ke rumah Pak Susilo biar ibu bisa menanyakan kost yang ibu cari." Kami pun berjalan bertiga beriringan menyusuri gang sempit agar bisa sampai di lokasi. 

Tak henti-hentinya ucapan syukur meluncur dari bibir kami berdua. Lewat tangan-tangan hamba-Mu yang murah hati, Engkau mengirimkan bantuan di kala pertolongan itu sangat kami butuhkan. 

Tampak lelaki paruh baya membuka pintu dan langsung menyodorkan kunci kamar kost yang akan ditempati oleh putriku. Kamar yang biasanya diperuntukkan untuk cucunya saat berkunjung diberikan kepada kami untuk disewa walaupun hanya untuk satu bulan, namun ini sangat membantu dan meringankan kekhawatiran yang sedang mendera. 

Tak berselang lama, terdengar Azan Magrib dari masjid yang tidak terlalu jauh. Tak bisa kubayangkan, apa yang akan terjadi jika Allah tidak mempertemukan ku dengan Aurora, gadis asal Riau yang membantuku menemukan rumah kost di kediaman Pak Susilo. 

Terima kasih Ya Rob atas semua kemudahan dan anugrah yang Engkau limpahkan. Engkau selalu mengirimkan pertolongan melalui orang lain yang baik hati, untuk menemukan jalan keluar saat Hamba sangat membutuhkannya. 


Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama