Kurikulum Prototipe ini akan dilaksanakan mulai jenjang TK, SD, SMP, SMA/SMK. Pada jenjang TK penerapan kurikulum ini akan difokuskan pada aktivitas bermain siswa sebagia proses pembelajaran yang utama. Sementara untuk jenjang SD pada kurikulum 13 Pembelajaran masih berbasis Tema. Namun pada kurikulum prototipe mata pelajaran IPA dan IPS akan digabungkan menjadi IPAS (ilmu pengetahuan alam dan sosial) untuk memahami alam agar lebih komprehensif.
Pada Jenjang SMP Pada Kurikulum 2013 Pelajaran Bahasa Inggris menjadi mata pelajaran wajib sementara pada Kurikulum Prototipe Bahasa Inggris menjadi mata pelajaran pilihan. Begitu juga dengan dengan Informatika yang menjadi mata pelajaran pilihan di kurikulum 2013 sedangkan pada Kurikulum Prototipe menjadi mata pelajaran wajib. Hal ini didasarkan pada tuntutan zaman yang mewajibkan generasi muda mengenal, memahami dan mengaplikasikan IT dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara di jenjang SMA adanya penghilangan penjurusan IPA, IPS, Bahasa, dan sebagai gantinya siswa kelas X akan mengikuti mata pelajaran yang sama dengan SMP, sementara kelas XI dan XII bisa memiih kombinasi mata pelajaran sesuai dengan kebutuhan, kemampuan dan cita-citanya.
Pada Kurikulum 2013 penetapan jam pelajaran dilakukan perminggu sementara pada kurikulum prototipe jumlah jam pembelajaran dilakukan pertahun.
Pada kurikulum 2013 yang mengenal istilah KI dan KD, pada kurikulum prototipe mengunakan istilah Capaian Pembelajaran (CP). CP merupakan satu kesatuan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang berkelanjutan, sehingga membangun kompetensi yang utuh.
Jadi bisa dikatakan dampak positif dari penerapan kurikulum prototipe ini adalah pembelajaran yang tidak hanya bertumpu pada target materi, namun pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) dengan menitik beratkan pada materi yang lebih esensial. Pembelajaran menjadi lebih baik dengan meningkatnya karakter siswa. Potensi siswa bisa lebih tergali dengan berbagai kesempatan belajar yang menyenangkan, dengan berjuta harapan learning loss dapat dicegah sebagai dampak pandemi Covid-19 yang berkelanjutan.