JURNAL REFLEKSI MINGGU 3 GURU PENGGERAK

 

Guru Penggerak

Hari pertama Minggu ketiga menyelesaikan modul 1.1 di aplikasi LMS Guru Penggerak diawali dengan kegiatan webinar Filosofi Ki Hajar Dewantara yang diikuti oleh seluruh guru penggerak angkatan 2. Kegiatan webinar ini dibagi menjadi dua sesi yaitu:

  1. Sesi pertama, dimulai pukul 13.00 s/d 14.00 WIB Rp,  diikuti oleh seluruh peserta yang akan melakukan diskusi dengan salah satu anggota majlis luhur taman siswa Ki Priyo Dwiyarso. Beliau menuturkan bagaimana konsep pendidikan yang diberlakukan di taman siswa. Siswa yang belajar di Taman Siswa dibiarkan tumbuh dengan sendirinya. Siswa tidak dipaksa untuk berkembang dan berkompetisi. Namun yang dikembangkan adalah sesuai dengan kodratullah dan sesuai cita-cita, bakat dan minat anak. Beliau menceritakan bahwa sebagian siswanya adalah difabel, Taman Siswa berusaha mengajarkan nilak-nilai toleransi dengan konsep pendidikan dalam bentuk boording school (sekolah dengan tinggal di asrama) demi keberhasilan pendidikan karakter. 


Pendidikan tidak hanya dilaksanakan saat belajar, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari ketika tinggal di asrama. Semua siswa dan guru berada dalam satu komplek sehingga tetjadi kedekatan secara emosional antara guru dan siswa. Taman siswa mengutamakan pendidikan bukan pengajaran, itulah sebabnya taman siswa di sebut perguruan bukan sekolah. Menurut Ki Priyo pengajaran itu lebih bersifat transper ilmu, sedangkan pendidikan mengarah kepada siswa dibekali ilmu-ilmu bagaimana  menghadapi realita hidup.


Lebih jauh beliau juga menjelaskan tentang konsep pendidikan KHD yang berakar dari budaya lokal. KHD menggunakan metode belajar Sari Swara yang merupakan sebuah Trilogi meliputi wiraga, wirasa dan wirama. Wiraga adalah keindahan lahiriah yang bisa dinikmati panca Indra. Wirasa adalah keindahan batin. Wiraga dan wiraga yang baik akan membentuk Wirama yaitu karakter hidup.


Ki Priyo juga menjelaskan secara singkat bagaimana awal mula diberlakukan sistem aning dalam Taman Siswa. Berawal dari rasa penyesalan Ki Hajar Dewantara karena telah menelantarkan Putri sulungnya Asti karena harus menyelesaikan beberapa artikel sehingga membuat putrinya terlantar dan menyebabkannya menjadi keterbekangan mental. 


  1. Sesi kedua ini dimulai pukul 14.00 s/d 15.00 WIB. diikuti oleh calon guru penggerak di masing-masing jenjang.  Narasumbernya adalah ibu Min Hermina seorang pendidik yang sudah menerapkan konsep ala Ki Hajar Dewantara. Ibu yang bertugas di SMP Negeri satu Cikampek ini memberlakukan: 

  1. Sistem CIBAKU SACI MASAGI yang terdiri dari 3 kata yang memiliki makna yang saling keterkaitan yaitu:

CIBAKU : Cinta Baca Buku

SACI.      : Satu Cikampek

MASAGI : Maca Dateng Babagi

Setiap hari Jumat di SDN 1 Cikampek dilakukan kegiatan literasi dengan cara masing-masing anak membawa satu buku dari rumah untuk dibaca selama 15 menit sebelum pelajaran pertama dimulai. Selanjutnya para anak diminta menuliskan inti sari dari bacaan yang sudah di baca tersebut, membacanya dengan suara kentang di depan siswa lain selanjutnya hasilnya dikumpulkan lewat wali kelas masing-masing. 

  1. Membentuk komunitas gelies yang diperuntukkan untuk guru-guru yang ada di wilayah Cikampek agarengikuti kegiatan menulis bateng serta berusaha menyusun buku tunggal.

  2. Pada masa pandemi menerapkan sistem MIKEREMES (Mikroblog, kreatif, menyebabkan dan sesuai). Anak-anak diminta untuk mengupload tulisan mereka di blog yang sudah disiapkan oleh sekolah agar bisa dibaca oleh siswa lain. Model tulisannya boleh bervariasi tergantung dari kreatifitas dari masing-masing siswa.


Selasa-Sabtu, 27 s/d 30 April 2021

Menyelesaikan tagihan berupa membuat video Koneksi antar materi, membuat kesimpulan dan refleksi pemikiran Ki Hajar Dewantara.  Aksi nyata membutuhkan  proses yang lumayan panjang maka sistem mbetikan waktu tenggang yang lumayan lama untuk menyelesaikannya.  Karena padatnya kegiatan membuat saya hanya membuat draf rencana kegiatannya saja dulu.


Mulai hari Kamis 29 April kegiatan dilanjutkan dengan mulai mengerjakan tugas pada modul 1.2 tenang nilai dan peran guru penggerak yang dimulai dengan alurulai dari diri. Pada LMS disiapkan sebuah bacaan dan kita diminta untuk memberikan tanggapan. Pada hari berikutnya saya mulai mengerjakan tugas pada alur eksplorasi konsep yang dilaksanakan secara mandiri dengan memberikan tanggapan baik secara umum maupun sesuai dengan pengalaman pribadi terhadap 24 jenis bacaan yang berbeda. Kemudian dilanjutkan dengan memberi komentar kepada minimal dua orang teman yang sudah mengumpulkan tugas. 


Diantara padatnya tagihan tugas yang harus diselesaikan dalam satu Minggu terselip rasa syukur dalam dirinya saya karena dengan tugas membuat video, animasi dan lainnya memaksa saya untuk mempelajari beberapa aplikasi video yang nantinya bisa dijadikan sebagai media pembelajaran untuk para siswa. Namun disamping itu ada keresahan dalam diri saya karena saat mengirim tugas yang berupa video tidak bisa terupload ke sistem padahal ukuran video setelah di convres sudah sangat kecil. Namun hal ini pun bisa saya atasi setelah memahami cara kerja dalam LMS.


BACA JUGA : Jurnal Refleksi Minggu 1


                         Jurnal Refleksi Minggu 2


Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama