Membaca isi wa yang dikirim paksu membuatku terperanjat. Anakku harus mendapat perawatan di rumah sakit dan mendapatkan tindakan operasi. Sementara aku masih berada di luar daerah menjalankan kewajiban sebagai seorang pendidik.
Kelucuan Pak Prapto mengurangi kepiluan yang sedang kurasakan. Sopir travel yang sudah berusia 60 tahun ini mampu menghipnotis kami berdua sehingga menemani perjalanan kami menuju Surabaya.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam kami pun sampai di kota pahlawan. Senyum manis keponakanku dan mengelilingi kota Surabaya mampu mengurangi kesedihanku.
Dada terasa sesak saat mendengar suara si bungsu dari ponsel. Gadis yang masih belia belum genap 12 tahun harus menunggu sang kakak seorang diri di ruang operasi. Terdengar Isak tangis dari bibirnya yang mungil melihat sang kakak terbujur di ranjang sembari didorong menuju ruang operasi dan dia tidak tahu apa yang mesti dilakukan.
Mendengar curahatan si kecil, butiran bening menerobos keluar tanpa bisa kutahan. Napasku terasa sesak. Seakan raga ingin melesat ingin pulang meninggalkan Malang dan lari dari kegiatan yang mewajibkan diriku disana.
"Mengapa kamu harus berangkat ke kota Apel.? Seandainya aku tahu akan seperti ini, kan ku batalkan keberangkatan ku kesana. Namun apa daya aku sudah beberapa hari disini dan tiket pesawat sudah ku pesan." Batinku seolah merutuki diri sendiri.
Hatiku ngenes membayangkan kegalauan yang dirasakan oleh putri kecilku.
Tak ingin semakin membuatnya bersedih. Ku tarik napas agar bisa menguasai perasaanku.
"Adek jangan nangis ya, sebentar lagi bapak dan kakak Ina dan datang. Anak ibu kan hebat. Adik Ndak usah kesana kemari ya." Bujukku berusaha menenangkan walau hanya lewat ponsel.
"Ya Bu, Adek ndak nangis kok, tapi kita takut Ndak ada temen Bu." Ucapnya jujur.
Pengakuan yang semakin membuat napasku tertahan. Membayangkan badannya yang mungil duduk seorang diri.
Kuhibur dirinya dengan mengatakan akan menelpon sang bapak untuk secepatnya balik ke rumah sakit. Namun pengakuan kembali si kecil membuatku semakin ngenes. Ternyata paksu tak menyadari ponselnya masih tertinggal di rumah sakit.
Lengkap sudah penderitaan putri kecilku. 😭😭😭
Ingin rasanya aku memutar jarum jam agar secepatnya pesawat yang aku tumpangi bisa sampai ke Lombok seperti kilat. Namun aku tetap seorang hamba yang tidak mungkin melakukan hal itu. Hanya kepasrahan dalam diri dan kenyakinan bahwa semuanya sudah sesuai dengan skenario tuhan dan mengandung hikmah didalamnya.
Paksu yang harus mendampingi putri tercinta harus menghadap pimpinan di kantor. Sementara sang kakak harus ke sekolah mengikuti ujian semester.
Lantunan doa mengalir dalam batinku agar semuanya dimudahkan.
Hanya kenyakinanku pada Sang Pencipta membaut hatiku lebih tenang. Semua yang terjadi saat ini apapun itu sudah sesuai ijinnya dan aku nyakin Dia Punya rencana indah pada akhirnya.
Semoga semuanya cepat berlalu dan akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu.
Lekas sehat untuk putrinya, Bu Hj
BalasHapusInsya Allah......semua akan indah pada waktunya......dan Allah selalu menemani orang orang yang sabar bunda👍👍👍
BalasHapusLuar biasa Adik Mimi yang hebat jaga kakaknya, saya ikut terharu...
BalasHapusSemoga kakak Aulia cepat sehat.
Bu Hj. yang sabar nggih...
Semua akan baik-baik saja 🙏🙏❤❤
semoga diberikan kesembuhan
BalasHapusDuh jadi terharu....yg sabar dan tetap semangat y Bu Hj...insyaAlloh ananda Aulia akan jauh LBH baik stlh oprasi...adk Mimi luar biasa, masih kecil sudah mampu mengambil peran d saat suli
BalasHapusBersabarlah.. SemogaAllah memberi kesehatan dan kemudahan buat putrfinya
BalasHapusSemoga Allah memberikan kesehatan. Amin
BalasHapusSemoga KK Aulia segera sehat seperti sediakala Bu hj.salut SM adik Mimi yg luar biasa tabah & hebat❤️
BalasHapusSemoga lekas sembuh anaknya bu.
BalasHapusBunda yg sabar... Yakinlah ketentuan yg indah akan bunda dapatkan sebagai buah dari kesabaran Amin..
BalasHapusSemoga Alloh segera menyembuhkannya aamiin
BalasHapusAllah memberikan ujian kepada kepada hambanya yang mampu.
BalasHapus