Maut itu sangat dekat (Part 1)



Suara mesin motor sudah terdengar diiringi lantunan solawat dari corong masjid yang tidak terlalu jauh dari rumahku. Tetanggaku masih banyak yang terlelap dalam mimpi mereka. Hanya satu dua suara langkah kaki terdengar dari terompa jamaah yang akan menunaikan sholat subuh. Maklum hari masih gelap. 


Seperti biasanya sebagai seorang istri, usai melakukan salat subuh. Aku pun menuju dapur untuk menyiapakan sarapan dan bekal yang akan dibawa ke kantor oleh suamiku. Maklum sebagai pegawai honorer dengan gaji tak seberapa membuatku harus membuat nasi bungkus untuk bekal suami ke kantor. Apalagi kantornya berjarak kurang lebih 60 km dari kediaman kami. 


Tidak membutuhkan waktu lama untuk menyiapakan menu ala kadarnya. Pak su menyantap nasi goreng yang ku buat sembari aku mmbungkus nasi untuk bekalnya di perjalanan dengan menu seadanya. 


"Hati-hati di jalan Pak, jangan ngebut, jalan licin karena hujan semalam," ucapku mengingatkan sembari mencium tangannya. 

Hanya anggukan yang kuterima sebagia balasan dari pesanku.

"Ini bekal untuk Alby." Sembari dia menyodorkan uang tiga ribu untuk bekal sekolah putraku yang paling bontot.


Berlahan warna merah sudah mulai tampak dari ufuk timur. Aku pun menuju kamar si bungsu untuk menyuruhnya mandi. Dia masih duduk terpaku di sajadah yang digelar di dekat tempat tidur.  Tanpa berkata apapun Alby langsung bangun dan menuju kamar mandi. 


Usai menyiapkan pakaian si bungsu. Aku kembali melanjutkan pekerjaanku di dapur yang tadi sempat kutinggalkan. Maklum sebagai ibu rumah tangga yang hampir setiap hari berada di rumah membuatku terbiasa kerja sendiri menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Tumpukan piring dan perabot yang sempat menggunung sudah tertata rapi di rak piring yang tampak usang. 


Alby sudah berdiri di pintu dapur lengkap dengan baju seragam merah putih dan sepatu. 

"Mak minta sangu."

Kusambar uang tiga ribu yang tergeletak di atas meja dan menyerahkannya ke Alby.

"Assalamualaikum," ucapnya sambil mencium tanganku sebelum akhirnya dia berlalu dan hilang di balik tembok. 


Sejak pagi matahari belum menampakkan cahayanya hingga membuat waktu terasa begitu cepat. Suara muadzin mengalun merdu menandakan hari sudah siang. Aku pun langsung menunaikan sholat Zuhur. Suara hiruk pikuk di halaman membuatku buru-buru keluar dengan mukena yang masih menutupi sekujur tubuhku.


Suara Isak tangis diantara kerumunan orang membuatku semakin penasaran apa yang sedang terjadi. Tampak ibu dan tiga orang adikku juga ikut menangis. Semua mata tertuju ke arahku membuatku semakin bingung apa yang sedang terjadi.


"Ada apa ini," tanyaku menghilangkan rasa penasaran yang semakin menjadi-jadi.

"Masa kamu belum tahu?" Tanya bibi Mis yang sudah berdiri di sampingku. 

Aku pun menggelengkan kepala.

Entah apa maksudnya, wanita paruh baya itu menarik tanganku untuk duduk. Aku langsung menuruti perintahnya tanpa melakukan pemberontakan.


"Kamu belum menerima telpon dari Mataram?"

Kujawab hanya dengan menggelengkan kepala. Perasaanku sudah mulai tidak enak. Tapi aku sediri belum tahu apa yang sedang terjadi.

"Suamimu menginggal dunia tadi sekitar pukul 10."

Suara bibi Mis terasa halilintar menyambar telingaku. Dunia terasa berputar. Dadaku sesak, napasku tersekat ditenggorokan. 

Tangisku pun meledak. 

"Tidak mungkin, kalian semua bohong. Tadi pagi dia masih ada disini." Suaraku diiringi raungan tragis.


Terdengar sirine ambulance berhenti persis di depan gang rumahku. Badanku langsung ambruk tak sadarkan melihat lelaki yang menemaniku hampir 30 tahun terbujur kaku.


Aroma minyak kayu putih yang menyengat hidungku membuatku membuka mata. Tampak kerumunan orang memenuhi gubukku yang hanya berukuran 6x6 meter. Aku pun tak kuasa menahan beban batin. Air mataku tumpah di dekat jenazah suamiku yang tampak tersenyum manis. 


Dengan isakan tangis kak Ani, kakak iparku yang menyaksikan kondisi terakhir suamiku. Dia mulai menuturkan saat saat terakhir kak Cali (panggilan akrab almarhum) sebelum menghembuskan napasnya.  


Kala itu sekitar pukul 09.30 wita, Cali (panggilan akrab almarhum) datang ke rumahku menggunakan sepeda motor butut kesayangannya. Tidak seperti biasanya kalau sedang mampir wajahnya selalu ceria. Namun kali ini tampaknya tampak pucat, keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya. Tangan kanannya memegang dada sebelah kiri. Dia langsung merebahkan badannya di gazebo yang ada di halaman. 

Erangan mulai terdengar dari mulutnya, menahan rasa nyeri yang dirasakan. Menyaksikan kondisinya seperti itu membuatku panik, tak tahu apa yang harus aku lakukan.


Aku pun mengambil balsem yang ada di kotak obat.

"Ayo kita ke puskesmas," tawarku. Namun dia tolak karena merasa agak baikan setelah saya urut pakai balsem. 

"Nanti juga sakitnya akan berhenti setelah saya minum air putih." Ujarnya sambil berusaha duduk dan bersandar di tiang gazebo.


Diteguknya air putih satu gelas penuh. Setelah minum. Selang beberapa menit, kedua tangannya bergelantung di palang gazebo menahan rasa sakit.  Wajahnya tampak semakin pucat. Badannya yang gempal basah dengan keringat yang bercucuran.  


Kuambil ponsel yang ada di dekat televisi. Tanganku langsung mencari Aan, putra pertamanya yang sekarang sedang berada di Mataram.

"Assalamualaikum bi, ada apa?"

"Kamu buruan kesini, bapakmu sedang kritis." 

Sekitar 15 menit, Aan pun datang dari arah timur. Melihat kondisi bapaknya yang sudah lemah. Dia pun langsung memapahnya ke motor untuk di bawa ke Puskesmas. Baru beberapa meter motor melaju, persis di depan masjid Muhajirin Dasan Agung lelaki itu sudah tidak kuat dan meminta anaknya untuk berhenti sebentar di masjid. Karena tidak kuat untuk mengangkat sang bapak yang sudah tergeletak jatuh, pemuda itu pun meminta bantuan pejalan kaki yang kebetulan lewat untuk membantu mengangkat sang bapak naik ke masjid. Hanya dalam hitungan menit di pangkuan putra sulungnya dan dihadapan kakak perempuannya ia menghembuskan napas terakhir. Dia pun pergi untuk selama-lamanya. 


Dadaku semakin sesak mendengar penuturan Kak Ani. Tidak pernah terbersit dalam benakku bahwa dia akan meninggalkanku secepat ini. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa melawan kehendak-Nya. Hanya lantunan doa dan harapan pada yang Maha Kuasa yang akan membantuku untuk menjalani hari-hari ini dengan tabah. 


Selamat jalan imamku, semoga diampuni  dosamu, diterima segala amal ibadahmu. Allah lapangkan kuburmu, dan dijadikan kuburmu sebagai taman surga, serta diberikanku tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga kelak kita bisa bertemu di alam akhirat. Aamiin Ya Robbal Alamin.

















1 Komentar

  1. Cerita yang menghentakkan dada untuk yang kedua kalinya di Minggu ini

    BalasHapus
Posting Komentar
Lebih baru Lebih lama