Untuk pertama kalinya Aqila teman sekelas ku meminjamkan buku komik. Kupandangi buku komik itu dengan rasa senang dan hati yang gembira. Aku pun langsung memasukkan buku komik ke dalam tas ku agar tidak hilang.
"Ayo anak-anak duduk yang rapi kita mau pulang", ucapan ustadzah menyadarkan kami sudah waktunya pulang. Ustadzah meminta bantuan Faqih untuk memimpin kami berdoa.
Sambil menunggu kami dijemput oleh orang tua masing-masing, saya dan teman-teman menonton film yang diputar ustadzah menggunakan LCD. Saat sedang asyik menonton satu persatu temanku keluar kelas karena orang tuanya sudah menjemput.
Tidak berapa lama aku pun keluar dari kelas karena ibuku sudah menunggu didepan gerbang. Saat sudah sampai di depan gerbang aku melihat sekeliling, tapi ibuku tidak kutemukan. Akhirnya aku balik ke kelas dengan wajah kebingungan.
"Ustadzah kita sudah dijemput apa belum sih, kok ibuku ndak ada di depan gerbang?" tanya ku memastikan.
"Ini sudah dijemput" jawabnya sambil ustadzah memperlihatkan pesan diponselnya yang berasal dari ibuku. Dengan langkah lunglai aku pun mencari ibu kembali ke depan gerbang. Tetapi wajahnya tidak tampak juga. Sampai 3 kali aku mondar-mandir, namun belum ketemu juga. Karena lelah kesana-kemari mencari ibu yang tak kunjung datang membuat tenggorokan ku kering.
Hingga akhirnya aku memutuskan kembali ke kelas untuk minum dan melanjutkan nonton film. Baru saja aku duduk mau melanjutkan menonton film. Dari kejauhan aku melihat ibu menggunakan motor kesayangannya yang berwarna pink. Dengan bergegas aku langsung menghampiri ibu ke luar gerbang.
Sepanjang perjalanan pulang, aku menceritakan keinginanku sejak dulu untuk memiliki buku komik kepada ibu. Untuk memenuhi keinginanku itu, ibu pun langsung mengajakku berburu buku komik di perpustakaan sekolahnya, namun hasilnya nihil. Apa yang aku harapkan ternyata tidak ada. Tapi saya pun meminjam satu buku yang berujudul 'HADIAH UNTUK SIKOMI.'
Sesampai dirumah saya pun bergegas menaruh tas dan mengganti pakaian sekolah menggunakan pakaian bermain ku. Setelah mengganti baju aku pun langsung membuka tas dan mengambil komik yang aku pinjam di Aqila. Tidak butuh waktu lama untuk melahap buku komik yang berisi penuh gambar. 94 halaman langsung habis kubaca. Komik itu kisahnya berbeda-beda karena ditulis oleh orang yang berbeda.
Satu hal yang menarik bagiku adalah pengarangnya masih anak-anak seumuranku. Aku jadi ingin menjadi penulis seperti mereka. Semoga di kemudian hari aku bisa membuat karya dan menulis buku