Setiap siswa berpotensi menjadi seorang bintang (juara), asal sebagai seorang pendidik dan orang tua mengetahui caranya. Pada tulisan kali ini saya ingin berbagi tips bagaimana mencetak seorang juara.
Menjadi guru bukan merupakan pekerjaan mudah, apalagi bisa menjadikan murid kita sebagai seorang juara, namun bukan berarti hal itu tidak mungkin. Satu hal yang perlu disadari oleh seorang pendidik adalah, bahwa tidak semua anak memiliki kemampuan akademik yang bagus. Tidak semua anak bisa mendapat hasil belajar 80 atau 95 di setiap mata pelajaran. Bisa saja beberapa anak meraih hasil belajar 90 di pelajaran Matematika, Bahasa Inggris, tapi mungkin sebagian besar mereka hanya mendapatkan nilai 40 atau 50 saja.
Di bawah ini ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian guru agar semua anak didiknya bisa menjadi bintang (juara)
1. Gali kelebihan anak
Allah menciptakan manusia tidak pernah lepas dari kelebihan dan kekurangannya. Saya jadi teringat dengan kalimat baliho yang dipasang di pinggir jalan utama "Disetiap kekurangan, Allah menitipkan kelebihan." Saya sangat sependapat dengan kalimat motivasi ini, karena kedua hal tersebut menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dari jagat raya ini.
Begitu pun dengan anak didik kita.
2. Tumbuhkan rasa percaya diri dalam pribadi siswa, bahwa mereka mampu menjadi bintang.
Rasa percaya diri bisa tumbuh jika para siswa merasa dihargai. Penghargaan tidak hanya diberikan kepada siswa yang mendapat nilai bagus. Tapi berikan kepada semua siswa karena mereka semua berhak dihargai.
Sebagai seorang guru kita terlalu fokus dan membuat acuan, hasil belajar yang diperoleh oleh anak didik kita. Kita hanya memberikan penghargaan kepada siswa yang sering mendapatkan nilai bagus, yang bisa menjawab soal dengan benar, yang bisa mendapatkan nilai sesuai target yang kita patok. Sehingga membuat kita lupa memberikan penghargaan terhadap usaha yang sudah dilakukan para siswa untuk menyelesaikan tugas tersebut. Walaupun nilai yang mereka peroleh rendah. Berikan apresiasi atas hal positif yang mereka lakukan, jangan hanya terpaku dengap kekurangan yang mereka lakukan.
"Hebat, kamu sudah hadir ke sekolah setiap hari, sembari kasi penguatan dengan jempol."
"Luar biasa, tadi ibu guru melihat kamu membantu temanmu mengangkat sampah."
" Keren, ibu guru selalu melihatmu tampak rapi, memasukkan baju."
"Terima kasih sudah tetap mengerjakan tugas, itu artinya kamu siswa yang bertanggung jawab."
Kalimat di atas merupakan beberapa contoh kalimat yang bisa diberikan seorang pendidik untuk menumbuhkan rasa percaya diri siswa.
3. Kurangi menyebut kekurangan yang mereka miliki.
Seseorang akan merasa berharga atau tidak, itu tergantung dari penerimaan orang disekitarnya. Kalau orang disekitarnya selalu menonjolkan kekuatan dari si anak, maka lambat laun dia akan merasa berharga. Namun jika yang sering ditonjolkan adalah kelemahannya, maka dia akan merasa minder atau rendah diri.
Seandainya strateginya kita rubah, dengan cara dibalik, maka anda akan bisa melihat hasilnya akan sangat luar biasa.
Kalau sebelumnya kita hanya menyebutkan kekurangannya saja, dengan merubah strategi lebih banyak menyebutkan kelebihan dan kekuatan yang dimiliki siswa, maka guru akan tercengang dengan hasil yang diperoleh siswa. Dan kebiasan kita akan terukir indah di memori mereka. Karena kita sudah membantu mereka untuk menjadi orang sukses dengan menumbuhkan rasa percaya diri, bahwa mereka mampu untuk menjadi seorang bintang.
Strategi di atas diistilahkan dengan BAGJA. Materi ini merupakan salah satu materi di modul calon guru penggerak. BAGJA itu sendiri kepanjangannya B (Buat Pertanyaan), A (Ambil Pelajaran), G (Gali Mimpi), J (Jabarkan Rencana) dan A (Atur Eksekusi).
Strategi BAGJA ini merupakan sebuah strategi bagaimana kita mampu menggali hal-hal positif atau kelebihan yang dimiliki oleh peserta didik kita untuk membantu mereka meraih masa depan yang gemilang. Di sini guru lebih banyak fokus dengan sisi baik seorang siswa dengan meminimalisir sisi negatif yang mereka miliki.
Berikan motivasi terbaik kepada anak didik kita, bahwa masa depan yang cemerlang itu milik siapa saja. Hal ini bisa dilakukan dengan merubah mind set dan cara berpikir para siswa. Guru bisa memberikan contoh, beberapa tokoh sukses yang dialami oleh orang lain seperti M. Zohri dari keluarga kurang mampu, dan tidak terlalu pintar, namun bisa menjadi juara dunia dalam cabang olahraga lari. Bang Zoel, Seorang fotografer yang memiliki fisik yang tidak sempurna, namun bisa menjadi fotografer bertarap dunia.
4. Pahami gaya belajar peserta didik kita
Sebagai seorang guru, kita selalu menginginkan agar materi yang kita sampaikan dipahami dan dimengerti oleh anak didik kita. Namun satu hal yang sering kita abaikan, bahwa masing-masing anak memiliki gaya belajar yang berbeda.
Kala seorang guru menyampaikan materi pelajaran, terkadang tidak semua anak memahami materi tersebut. Salah satu penyebabnya adalah karena kita sebagai guru menyajikan materi dengan cara yang kita senangi, tanpa pernah berpikir bagaimana cara yang disenangi oleh para siswa.
Sebagai contoh
Seorang guru IPS akan memberikan materi tentang "Perubahan Masyarakat Indonesia Pada Masa Penjajahan dan Tumbuhnya Semangat Kebangsaan."
Seringkali guru memberikan materi dengan cara, meminta kepada siswa untuk membuka buku paket dan disuruh membaca serta merangkum. Strategi ini bagus namun hanya mengakomodir siswa yang memiliki gaya belajar visual (mengandalkan penglihatan). Bagi siswa yang memiliki gaya belajar Auditori dan Kinestetik, cara ini sangat membosankan, sehingga membuat mereka mencari alasan untuk keluar kelas.
Namun akan sangat berbeda jika, materi itu dibuat dengan berbagai strategi. Seperti anak-anak dikelompokkan sesuai dengan gaya belajar yang mereka miliki. Selanjutnya masing-masing kelompok akan diberikan tugas sebagai berikut:
a. Bagi para siswa yang memiliki gaya belajar visual, mereka diminta untuk membaca buku, merangkum atau membuat mind mapping.
B. Bagi para siswa yang memiliki gaya belajar Auditori, diberikan rekaman suara terkait materi tersebut, dan minta mereka untuk mempresentasikan di depan atau membuat rekaman suara sendiri terkait materi yang mereka pelajari.
c. Bagi para siswa yang memiliki gaya belajar Kinestetik, suruh mereka bermain peran atau melakukan kegiatan yang melibatkan fisik disesuaikan dengan materi, agar gerakan mereka tidak terkesan mengganggu siswa lain. Sehingga dengan cara ini mereka bisa memahami materi dan gerakan fisik mereka yang tidak bisa diam bisa dialihkan ke hal yang positif.
Dengan menerapkan cara di atas, guru memang akan sedikit repot, namun hasilnya akan luar biasa. Dan materi yang sudah dipersiapkan tersebut hendaknya disimpan baik-baik, karena masih bisa digunakan untuk tahun berikutnya.
Demikian beberapa hal yang bisa kita gunakan untuk mencetak Sang Bintang bagi siswa kita, semoga ada manfaatnya.