Aksi Nyata Modul 3.1

Aksi Nyata Modul 3.1

Menghadapai kasus siswa tentang pengambilan keputusan bagi siswa yang jarang masuk sekolah dengan menggunakan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan keputusan dan uji keputusan yang telah dilaksanakan.

 

Latar belakang

Sekolah sebagai lembaga pendidikan untuk mencetak generasi penerus bangsa tidak pernah lepas dari permasalahan yang ada baik yang berasal dari para siswa, rekan guru, pengambil kebijakan atau dari orang tua dan mssyarakat. Jika permasalahan ini dibiarkan terus menerus maka akan sangat berdampak pada hasil pendidikan yang diperoleh. Untuk itu diperlukan komitmen serta kerjasama semua unsur yang ada dilingkungan sekolah agar apapun bentuk permasalahan yang terjadi di sekolah bisa diselesaikan dengan baik dan bertanggung jawab.

Untuk memperoleh Penyelesaian yang baik dan bertanggung jawab maka kita harus menerapkan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan keputusan serta disesuikan dengan persoalan yang muncul.

 

Permasalahan yang muncul

Salah satu kasus yang terjadi di sekolah saya adalah sejak sekolah memberlakukan pembelajaran tatap muka terbatas, ada seorang siswa yang tidak pernah datang ke sekolah. Sebagai guru Bimbingan Konseling, saya pun mengumpulkan data dari beberapa siswa yang rumahnya berdekatan dengan siswa tersebut.

Informasi yang saya peroleh adalah siswa tinggal bersama dengan neneknya yang sudah jompo, sementara kedua orang tua siswa sudah lama bercerai dan masing-masing sudah menikah dengan orang lain. Kondisi neneknya yang sudah tua, menjadi penyebab dia tidak bisa mengawasi cucunya secara maksimal. Siswa jarang di rumah, dia lebih sering menginap di rumah temannya.

Alasan saya melakukan aksi nyata tersebut adalah agar siswa rajin masuk sekolah dan tidak tertinggal materi pelajaran.

 

Tindakan atau aksi nyata yang saya akan lakukan adalah:

  1. Setelah mendapatkan data awal, saya pun mendiskusikan hal ini dengan wali kelas dan merencanakan melakukan kunjungan rumah untuk mengetahui penyebab real siswa tidak pernah masuk sekolah.
  2. Melakukan kunjungan rumah untuk mengumpulkan informasi lebih akurat terkait kondisi keluarga siswa. Ternyata siswa setiap hari berangkat ke sekolah dengan jalan kaki, namun karena sering terlambat, dia malu dan takut dimarah oleh guru bidang studi.
  3. Membuat kesepakatan dengan siswa, serta bekerja sama dengan paman siswa untuk mengantar siswa ke sekolah agar tidak terlambat sampai di sekolah.
  4. Bekerjasama dengan guru bidang studi mengontrol kehadiran siswa di kelas.
  5. Mengadakan kontak telpon dengan pihak keluarga, jika siswa tidak ada di sekolah.

 

Hasil yang diperoleh

Setelah melakukan beberapa tahapan, serta berkat kerjasama dari berbagai pihak dan komitmen dari siswa sendiri untuk berubah, setelah satu Minggu dulakukan observasi siswa mengalami perubahan prilaku ke arah yang pisitif. Siswa menjadi rajin masuk sekolah, walaupun terkadang satu dua kali dia terlambat, namun dia berusaha untuk tetap masuk sekolah.

 

Perasaan (feelings)

Ada rasa syukur serta muncul kebahagiaan tersendiri saat melihat ada perubahan prilaku yang dialami oleh siswa setelah menjalani beberapa proses konseling dan pengambilan keputusan.

 

Pembelajaran (findings)

Pembelajaran yang bisa diambil dari kegiatan aksi nyata tersebut adalah untuk memperoleh hasil yang maksimal maka dibutuhkan komunikasi dan kerjasama dari berbagai pihak, baik itu guru, pemangku kebijakan, keluarga, dan masyarakat agar apa yang menjadi harapan semua pihak bisa dicapai dengan hasil yang maksimal.

 

Penerapan ke depan (Future)

Melakukan kerjasama dengan berbagai pihak untuk membantu siswa menyelesaikan masalah yang dihadapi. Serta untuk mengontrol keberadaan para siswa selama berada di sekolah.

Namun tidak semua permasalahan yang terjadi di sekolah bisa mendapatkan hasil sesuai harapan. Dibutuhkan kerjasama, komunikasi efektif serta keteladanan agar semua bisa berjalan sesuai dengan tujuan bersama. 

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama