Sekelumit Kisah Perjalanan Kapal Dharma Kirana 5 dan Kereta Api

 Selasa, 20 Januari 2026

Setelah melakukan cek in sekitar pukul 20.17 menit saya pun bersama dua putriku Afina dan Syifa menunggu di ruang keberangkatan. Namun sampai pukul 21.30 wita menit belum ada tanda-tanda keberangkatan kapal padahal di tiket tertera pukul 21.00 wita.

Usut punya usut ternyata keberangkatan kapal mengalami kemunduran karena kedatangan kapal Dharma Kartika 5  dari Surabaya baru tiba di pelabuhan Gili Mas  pada pukul 07.12 menit, sementara awak kapal harus melakukan bongkar muat dulu serta membersihkan area dalam kapal. Sehingga keberangkatan kapal yang semula pukul 21.00 menjadi pukul 24.00 wita.
Kali ini saya rencananya akan ke Jakarta untuk mengambil  barang-barang Afina di Kost karena dia sudah selesai kuliah dan akan mencoba mencari pekerjaan di Lombok. Pada perjalanan kali ini Syifa ikuy karena saat ini pembelajaran di MAN IC dilakukan secara daring karena asrama dan sekolahnya sedang di rehab.

Estimasi sampai di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya pada pukul 13.30 Wib namun karena keterlambatan keberangkatan yang menyebabkan kedatanganpun pukul

Beberapa bulan lalu saya pun pernah menggunakan kapal DLU yaitu Dharma Lucitra 5 menuju Surabaya. Namun ada sedikit perbedaan dalam pelayanan walaupun sama-sama mengambil tiket ekonomi dewasa tidur. Kalau pada Kaoal Dharma Lucitra Setiap penumpang akan mendapatkan bad tidur sesuai no bad yang tertera di tiket, sementara di Kapal Dharma Kartika 5 penumpang akan berebut tempat tidur sehingga terkadang kalau penumpang sedang banyak malah tidak akan mendapatkan tempat tidur walaupun tiketnya dewasa-tidur. Kondisi ini membuat penumpang terkadang kecewa dalam pelayanan. Saat saya mencoba konfirmasi ke petugas kapalnya dengan santainya dia menjawab "kalau sesuai no bed di tiket lama ngatur penumpangnya bu." Padahal petugas tinggal menunjukkan aja no bed ini ada di deretan mana, tinggal penumpang yang akan mencari sendiri posisi bednya.

Tanpa di sadari kebiasaan masyarakat seperti ini yang membuat mereka hanya bisa sebagai pelayan di rumah sendiri. Karena mereka sulut keluar dati zona nyaman. Hanya mengambil praktis, cepat dan tidak lelah. Jarang mengutamakan kenyamanan pelayanan. Padahal orang akan berbondong-bondong akan menggunakan jasa kita jika kita memberikan pelayanan terbaik dan itu akan berdampak kepada peningkatan kesejahreraan karyawan atau pegawainya.

Setelah meemnpuh perjalan selama 20 jam kami pun sampai di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Setelah turun dati kapal jangan memaksakan diri untuk mencari Gocar atau Gojek di area pelabuhan karena itu akan sia-sia. Walauoun kita menesan lewat aplikasj tetap saja ndak bisa masuk le pelabuhan.

Kita hanya bisa menyewa Grab yang memang sudah terdaftar di pelabuhan. Kalau kita akan menggunakan mkde transportasi yang lain seperti Gicar, Gkjek, Trapel maka kita harus jalan kakai sejauh kurang lebih 500m atau krluar dari wilayah pelabuhan. Walauoun tarifnya lebih mahal maka kita harus tetap menggunakan Grab atau mode transportasi yang sudah terdaftar di pelabuhan.

Perjalanan kami pun berlanjut ke stasiun Gubeng yang ada di di Surabaya menggunakan Grab dengan biaya 90.000 termasuk biaya parkir kendaran, namun setelah kesana tiket kereta api ekonomi sudah habis terjual, yang ada di stasiun Pasar Turi sehingga kami harus mengeluarkan ongkos dobel menuju stasiun pasar turi.

Saya berpesan kalau memang tiket Kereta Api penjualan secara online sudah habis maka jangan menaksakan diri untuk mencari ke stasiun karena pasti kondisinya sama dengan penjualan di online. Jangan terlalu terpengaruh dengan pendapat orang luar yang mengatakan bahwa "kadang secara online tiket habis, tapi siapa tahu ada di jual oleh calo atau pihak lain". Percayalah kalau kalian masih mendengar omongan seperti ini maka kalian akan kecewa karena pasti akan mendapati tidak sesuai dengan harapan.

Karena kami tidak mendapatkan tiket yang menuju Jakarta di Stasiun Gubeng maka kami pun langsung menuju Stasiun Pasar Turi. Kebetulan Tiket Kereta Darmawangsa masih tersedia menuju stasiun Pasar Senen Jakarta. Tepat Pukul 23.00 WIB kereta yang kami tumpangi melaju menuju Stasiun Pasar Senin dengan memakan waktu 10 Jam karena kereta akan melakukan pemberhentian di setiap stasiun yang dilewati.

Walaupun perjalanannya menempuh waktu 10 Jam tidak begitu terasa lelah karena Kursi Kereta Darmawangsa sudah bagus dan semua Kursi searah dengan lajunya Kereta Api.

Akhirnya perjalanan panjang menuju Jakarta mencoba trasnportasi Laut dan Kereta Api sampai juga di tujuan. Rasanya Kecut-kecut manis.
Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama