Inilah kisah perjalanku Hari ini Rabu, 19 Februari 2025
Hari ini aku merencanakan pendampingan di 2 sekolah yang berada di ujung selatan Kabupaten Lombok Barat tepatnya di Pelangan yaitu di TK al Muyassaroh dan TK Al Fariq.
Senyum merekah terpancar dari wajah kepala sekolah dan para guru kala melihat motor kirana yang membawaku sampai ke lokasi. Butuh waktu hampir 2 jam diperjalan untuk bisa sampai ke lokasi yang berjarak hampir mencapai 65 km dari Kantor tempatku mengabdikan diri. Kelelahan yang mendera langsung pudar kala menyaksikan senyum merekah para guru di TK Al Muyassaroh.
TK Al Muyassaroh merupakan salah satu sekolah swasta yang ada di Desa Pelangan. Siswa yang mengenyam pendidikan di sini pada tahun 2024/2025 ini berjumlah 80 siswa dengan 6 orang guru honorer. Sekolah hanya memiliki 1 ruang belajar yang disekat menjadi 2 kelas. Karena banyaknya siswa maka dibutuhkan kreatifitas kepala sekolah agar siswa lain juga memiliki ruang kelas untuk lokasi belajar. Kepala sekolah memanfaatkan bekas parkir penambang emas yang sudah tidak digunakan di sulap menjadi ruang kelas untuk tempat belajar para siswa sehingga proses pembelajaran tetap bisa berjalan.
Namun yang miris kala hujan turun air masuk ke dalam kelas melalui tembok yang retak sehingga hal ini mengganggu anak-anak belajar. Sementara musim panas suasana kelas yang beratap spandek berpengaruh pada kenyamanan anak belajar.
Kondisi berbeda yang kami temukan kala berkunjung ke TK Al Fariq. Sekolah yang berada di Desa Pelangan Dusun Mecanggah ini memiliki kondisi yang sangat memprihatinkan, untuk mencapai lokasi sekolah maka pengunjung harus melewati jalan berbatu dan tanjakan. Sementara pada saat musim hujan jalannya licin karena struktur tanahnya tanah liat.
Semangat para guru yang memiliki komitmen mencerdaskan anak bangsa perlu diacungi jempol. Di tengah keterbatasan dan fasilitas yang sangat tidak memadai, mereka tetap semangat dalam mendampingi para siswa dalam belajar. Walaupun mereka tidak menerima bayaran apapun dari sekolah.
Tidak itu saja, ada beberapa siswa yang harus menyeberangi 2 sungai dan menaiki tanjakan untuk bisa sampai ke sekolah. Sehingga pada saat air sungai meluap maka para siswa harus diseberangkan oleh para guru untuk bisa sampai ke rumah. Tidak jarang para guru yang hanya berjumlah 3 orang ini harus membawa baju ganti. Para siswa belajar di rumah seorang penduduk yang sudah tidak dihuni, dengan segala keterbatasan yang ada. Para guru memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai bahan ajar.
Salut kepada para guru yang selalu berpikir apa yang saya berikan untuk negara tanpa pernah mereka berpikir apa yang saya dapatkan. Semoga keikhlasan dan dedikasi teman-teman di balas oleh Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa dengan keberkahan yang berlimpah, Aamiin Ya Robbal Alamin.















