TAHAPAN COACHING
Pertanyaan Berbobot
Bapak/Ibu pemelajar,
Pertanyaan berbobot adalah pertanyaan yang diajukan dengan tujuan tertentu. Pertanyaan yang diajukan seorang coach diharapkan menggugah orang untuk berpikir (thought-provoking) dan menstimulasi pemikiran coachee, memunculkan hal-hal yang mungkin belum terpikirkan sebelumnya, mengungkapkan emosi atau nilai dalam diri dan yang dapat mendorong coachee untuk membuat sebuah aksi bagi pengembangan diri dan kompetensi. Berikut ciri-ciri pertanyaan berbobot:
- Hasil mendengarkan aktif: Menggunakan kata kunci yang didapat dari mendengar aktif.
- Membantu coachee: Membuat coachee mengingat, merenung, dan merangkai fakta sehingga dapat memahami apa yang terjadi pada dirinya.
- Bersifat terbuka dan eksploratif: Struktur kalimat terbuka, membuat coachee harus menjawab sambal berpikir.
- Diajukan di momen yang tepat: Tidak terburu-buru dalam mengajukan pertanyaan dan ditanyakan di waktu yang coachee sudah siap memprosesnya.
Kiat-kiat agar dapat mengajukan pertanyaan berbobot adalah sebagai berikut:
- Merangkum pernyataan-pernyataan coachee dari hasil mendengarkan aktif.
- Menggunakan kata: apa, bagaimana, seberapa, kapan dan dimana, dalam bentuk pertanyaan terbuka
- Menghindari penggunaan kata tanya “mengapa” - karena bisa terasa ada “judgement”. Ganti kata “mengapa” dengan “apa sebabnya” atau “apa yang membuat”
- Mengajukan satu pertanyaan pada satu waktu, jangan memberondong
- Mengizinkan ada “jeda” atau “keheningan” setelah coachee selesai bicara, tidak buru-buru bertanya. Juga izinkan ada keheningan saat coachee memproses pertanyaan
- Menggunakan nada suara yang positif dan memberdayakan
Berikut ini adalah salah satu referensi yang dapat kita gunakan untuk mengajukan pertanyaan berbobot hasil dari mendengarkan aktif yaitu RASA yang diperkenalkan oleh Julian Treasure.
Gambar 2. Receive, Appreciate, Summarize, dan Ask
RASA merupakan akronim dari Receive, Appreciate, Summarize, dan Ask yang akan dijelaskan sebagai berikut:
R (Receive/Terima), yang berarti menerima/mendengarkan semua informasi yang disampaikan coachee. Perhatikan kata kunci yang diucapkan.
A (Appreciate/Apresiasi), yaitu memberikan apresiasi dengan merespon atau memberikan Bapak/Ibu bahwa coach mendengarkan coachee dengan cara mengangguk, kontak mata atau melontarkan “oh…” “ya…”.
Coach juga sebaiknya memberikan perhatian dan hadir sepenuhnya untuk coachee dan tidak terganggu dengan situasi lain atau sibuk mencatat.
S (Summarize/Merangkum), saat coachee selesai bercerita, coach merangkum untuk memastikan pemahaman yang sama. Perhatikan dan gunakan kata kunci yang diucapkan coachee. Saat merangkum bisa gunakan potongan-potongan informasi yang telah didapatkan dari percakapan sebelumnya. Minta coachee untuk konfirmasi apakah rangkuman sudah sesuai.
A (Ask/Tanya). Berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan saat mengajukan pertanyaan:
- Ajukan pertanyaan berdasarkan apa yang didengar dan hasil merangkum (summarizing)
- Ajukan pertanyaan yang membuat pemahaman coachee lebih dalam tentang situasinya
- Pertanyaan harus merupakan hasil mendengarkan yang mengandung penggalian atas kata kunci atau emosi yang sudah dikonfirmasi
- Dalam format pertanyaan terbuka: menggunakan apa, bagaimana, seberapa, kapan, siapa atau di mana
- Hindari menggunakan pertanyaan tertutup: “mengapa” atau “apakah” atau “sudahkah”
Pertanyaan dengan kata mengapa dapat membuat coachee merasa disudutkan dan disalahkan sehingga dapat menstimulasi munculnya jawaban yang berupa alasan atau excuse yang bersifat defensif. Padahal dalam proses coaching, coach diharapkan bertanya dengan netral dan objektif agar membuat coachee juga dapat berpikir dengan tenang dan reflektif tanpa merasa dihakimi atau diberi label.
Saat mendengarkan aktif, elemen pertama yang perlu diperhatikan adalah menangkap kata kunci yang terucap oleh coachee. Kata kunci biasanya mengandung makna yang tidak terucapkan dan perlu digali agar coachee dapat terbantu untuk lebih memahami situasi yang sedang dihadapinya. Ciri-ciri kata kunci biasanya:
- Diucapkan dengan intonasi tertentu: Tinggi, rendah, melambat, lebih cepat atau dengan tekanan
- Kadang diucapkan berulang kali: Jika satu kata, apalagi berupa kata sifat, diucapkan berulang, ini kata kunci, misal “Saya bingung/ragu/tidak tahu”
- Diwakili oleh metafora atau analogi atau kata unik dalam bahasa asing, misal: “Saya seperti musafir di padang pasir”, “Saya merasa stuck”
Tidak jarang disertai emosi
Bila kita hubungkan dengan pembelajaran sosial emosional yang berfokus pada pengembangan keterampilan sosial dan emosional, kompetensi seorang coach untuk bisa bertanya secara efektif ini sangat berhubungan dengan kompetensi kesadaran diri karena pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh seorang coach adalah pertanyaan-pertanyaan yang mendorong individu untuk merenungkan pemikiran, emosi, dan tindakan mereka. Proses ini membantu individu mendapatkan kesadaran diri, menjelajahi sudut pandang Bapak/Ibu yang berbeda, dan menemukan solusi untuk tantangan mereka. Pembelajaran sosial emosional juga mendorong refleksi diri sebagai bagian dari pengembangan kesadaran diri dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.