Matahari seolah sedang bersahabat hari ini Sabtu, 4 Februari 2023. Tak bisa dipungkiri bahwa hampir semua sekolah yang ada di Lombok Barat mengadakan Gebyar Sabtu Budaya. Hal ini sesuai dengan edaran dari Bapak Bupati Lombok Barat yang mengharuskan semua warga sekolah pada jenjang pendidikan dasar, setiap Hari Sabtu pada minggu pertama tiap bulan menggunakan baju adat Lombok. Sekolah diberikan kesempatan untuk mengeksplor semua budaya yang ada di Lombok. Hal ini dimaksudkan agar generasi muda tidak lupa akan kebudayaan sendiri serta bisa mempertahankan budaya lokal.
Tidak terkecuali di SMPN 4 Gerung, kegiatan Sabtu budaya diisi oleh pagelaran para siswa yang ingin unjuk kebolehan di depan siswa yang lain. Kegiatan gebyar ini dikoordinir langsung oleh anggota OSIS SMPN 4 Gerung bekerja sama dengan bapak/ibu guru yang ada di sekolah. Sehingga kegiatan terlaksana dengan lancar dan tampak meriah.
Ada beberapa rangkaian kegiatan yang akan ditampilkan terkait dengan kegiatan hari ini diantaranya. Kegiatan terlebih dahulu dibuka oleh Bapak Kepala Sekolah SMPN 4 Gerung, Bapak Fauzi, S.Pd. Beliau berjanji akan melengkapi fasilitas yang dibutuhkan agar ke depan kegiatan ini semakin meriah dan mampu menggali, memunculkan bibit-bibit unggul.
Beliau juga berharap kegiatan ini dimaksudkan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh siswa yang ada di sekolah, agar nantinya bisa menjadi bekal mereka di kemudian hari. Bapak kepala sekolah juga memberikan apresiasi kepada seluruh siswa yang tampil dan memberikan motivasi kepada siswa yang belum tampil agar di kegiatan berikutnya pada bulan depan mereka juga bisa unjuk kebolehan.
Usai pengarahan dari bapak kepala sekolah, kegiatan gebyar di awali dengan seorang siswa yang bersuara emas ananda Gina Samsi Tibris yang sekarang sedang duduk di kelas 9a, mencoba menghibur semua warga sekolah dengan suaranya yang merdu membawakan lagu daerah Sasak berjudul "Inaq Tegining Amaq Teganang,".
Terdengar siswa maupun guru ikut bersenandung mengikuti setiap irama dan alunan lagu dengan asyiknya.
Yang tak kalah menariknya adalah tampilan dari gabungan kelas 7, 8 dan 9 yang berjumlah 18 orang siswa putri dengan badan dan gerakannya yang lemah gemulai, diiringi alunan musik, mereka dengan kompaknya membawa tarian tradisional Sasak "Tegining-Teganang."
Tidak hanya lagu dan tarian yang ditampilkan. Pada kesempatan ini juga seorang siswa kelas 9a, Siti Rahmi juga berusaha membawakan kisah rakyat Lombok (Story' Telling) menggunakan bahasa Sasak. Cerita yang dibawakan adalah "Putri Mandalika." Kisah ini menceritakan seorang putri yang tidak ingin melihat kerajaan yang ada di Lombok berperang antara kerajaan satu dengan kerajaan yang lain karena memperebutkan dirinya. Untuk menghindari hal tersebut Putri Mandalika menceburkan diri ke laut. Dan setelah peristiwa itu, di sekitar pantai tempat kejadian tersebut muncul cacing-cacing yang berwarna warni yang dan masyarakat berebut untuk menangkap binatang laut tersebut yang oleh masyarakat sekitar di sebut dengan nyale. Mulai saat itu setiap bukan Februari di kenal dengan tradisi masyarakat bau nyale.
Usai bercerita, ada hal unik yang dilakukan oleh Rahmi yaitu meminta teman-temannya menebak teka teki berhadiah yang siapkan oleh kepala sekolah bagi siswa yang bisa menebak pertanyaan yang dilontarkan oleh Rahmi.
Usai kegiatan story' telling, dua orang siswa yang berasal dari kelas 9e Ayu dan Cristin, menampilkan satu tarian yang berjudul "Tari Merak Angelo yang berasal dari Bali." Tari Merak Angelo, adalah tari yang menggambarkan burung merak jantan dengan bangganya memamerkan keindahan bulu ekornya yang panjang dan berwarna-warni seraya meliuk-liukkan badannya dengan maksud menarik perhatian burung merak betina.
Kali berikutnya semua warga sekolah dibuat terpesona dengan suara merdu seorang biduanita Julia Miranda. Siswa kelas 8a ini sering mengikuti lomba menyanyi solo dan sering mendapatkan juara. Nanda panggilan akrab siswi yang sedang duduk di kelas 8 ini membawakan lagu daerah Sasak yang berjudul "Berugaq Elen." Suaranya yang mendayu-dayu membuat semua ikut bersenandung. Tidak hanya satu lagu, dia juga menyanyikan lagu Sasak dengan judul "Jauq Ate Seda."
Begitu pun kelas 7, mereka tidak mau ketinggalan unjuk kemampuan. Siswa yang berjumlah 10 orang ini dengan wajah berseri-seri dan lenggokan badan sembari diiringi musik. Mereka membawakan tarian "Apuse," yang berasal dari Papua Barat.
Kegiatan diakhiri dengan penampilan seorang atlit Pencak Silat Andika Teguh Firmansyah, yang biasa dipanggil Dika oleh guru dan teman-temanya ini, masih duduk di bangku kelas 7a. Siswa yang beberapa waktu lalu meraih juara dua tingkat provinsi Lomba Pencak Silat ini dengan antusiasnya mencoba memamerkan beberapa jurus di tengah lapangan sebagai daya tarik bagi siswa lain agar bisa mengikuti jejaknya menjadi atlit Pencak silat.
Tanpa terasa jarum di pergelangan tangan sudah menunjukan pukul sebelas silang, namun kondisi masih tetap adem. Sampai saat ini sang surya belum juga menampakkan cahaya yang menyengat membuat hari terasa masih pagi.
Usai mengikuti semua rangkaian kegiatan, Satu demi satu para siswa akhirnya meninggalkan sekolah menuju rumah masing-masing.
Baca Juga Artikel
Tips agar bisa masuk sekolah unggulan
Tips menjadi siswa unggul dan hebat
Cara menumbuhkan kesenangan dan kebiasaan membaca








Luar biasa . Teruslah bergerak dg aksi" Hebat lainya bunda. Smiga S4G terus bergerak maju menghasilkan generasi" Emas unt masa depan bangsa.
BalasHapusAamiin...
HapusSelalu menjadi inspirasiku.
BalasHapus