Tidak semua yang sudah kita harapkan bisa berjalan sesuai dengan yang kita rencanakan. Inilah salah satu cara Tuhan meningkatkan kualitas hidup hambanya. Karena Dia tahu apa yang terbaik untuk seorang Hamba. Hanya satu kenyakinan bahwa "Allah hanya akan memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan."
Mendengar suaranya yang dihantarkan dengan gelombang ponsel membuatku semakin gundah. Tak seperti biasanya suara yang biasanya ceria, kali ini terdengar pilu. Helaan napas panjang semakin membuat jantungku tak karuan.
Assalamualikum Bu. Lirihnya setelah berusaha menenangkan hati.
Menanyakan kabarku dan Paksu selalu menjadi pembuka kalimatnya setiap dia menelpon. Sebagai seorang wanita yang pernah membuatkan tubuh mungilnya diam di dalam rahimku. Aku tahu dia tidak baik-baik saja dirantau. Namun dia selalu berusaha menutupi kondisinya.
"Bagaimana perkembangan skipsinya, kapan jadwal sidangnya?" Tanyaku mengurai rasa penasaran.
Untuk beberapa lama, suasana hening.
"Maaf Bu..., dosen minta saya untuk mengulang lagi dari bab 4. Jawabnya disertai isakan tangis.
Napasku terasa sesak, helaan napas yang sempat tertahan akhirnya terhempas juga. Wajah polos putriku terbayang. Tidak ada keluarga, saudara tempatnya berbagai duka atau sekedar memegang bahunya saat dia terpuruk seperti ini.
Buliran bening itu akhirnya luruh juga tak mampu ku tahan. Kujauhkan ponsel itu dari wajahku agar isakanku tak terdengar. Kubiarkan dia menangis untuk sekedar mengurangi beban yang dialaminya.
"Bu, minta doanya agar semuanya lancar. Ucapnya setelah sempat mengeluarkan beban lewat tangisan.
Tidak ingin membuatnya semakin terpuruk, aku pun berusaha menguatkan dirinya agar tidak semakin terpuruk. Aku sadar,
Aku bukan peri yang bisa dalam hitungan menit, berpindah ke asrama putriku yang berjarak ribuan kilo jauh untuk memeluk dan mengurangi bebannya.
Munajat...
Ya... Cuma itu yang bisa kulakukan untuk menolongnya. Hanya doa dan kepasrahan yang bisa kumohonkan kepada pemilik dan penguasa alam, agar semuanya dimudahkan dan dilancarkan serta diberikan kekuatan untuk bisa melaluinya dengan senyuman.
***
Dua pekan berlalu, namun belum juga ada Khabar. Kupandangi laptop yang sejak tadi seolah bingung melihat kebengonganku.
Deringan ponsel membuyarkan lamunan yang mendera. Secepat kilat ku sambar benda kecil yang tergeletak di samping laptop. Satu nama yang sedang bermain di benakku tertulis di layar.
"Assalamualikum." Ku coba membuka percakapan.
Terdengar sautan dari seberang dengan nada berat disertai isakan. Untuk sesaat suasana hening. Helanaan napas membuat suasana lebih rilek.
"Alhamdulillah dan terima kasih Bu atas doanya. Kita sudah dapat jadwal sidang. Dan maaf Bu, minggu ini kita tidak sempat menelpon ibu karena fokus dengan revisi skripsi dan analisa data ulang. Berkat doa ibu semuanya dilancarkan."
Butiran bening menerobos keluar tak kuasa ku bendung. Desiran rasa syukur dalam qalbu memenuhi rongga dada. Badanku tersungkur, replek keningku menempel di lantai ruangan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Sang Khalik.
Tangis bahagia bukti nyata bahwa semuanya akan berlalu dan berganti dengan senyuman. Setelah gelap terbitlah terang. Kalimat bijak yang bisa mengajarkan kita banyak hal. Di samping kesusahan Allah akan menitipkan kebahagian. Air mata terus bersanding dengan tawa riang.

Alhamdulillah Allah selalu punya skenario yang yang terbaik untuk setiap hambaNya. Terkadang kita hanya butuh sabar dengan seluruh prasangka baik kita. Selamat ya Bu semoga berkah setiap pencapaiannya.
BalasHapusLuar biasa Ibu Hj. ..
BalasHapusSemoga sukses terus untuk putrinya 🙏
Tak kusangka air mata ini mengalir juga membaca tulisan ibu,karena apa yg ditulis mirip dengan yang saya alami hanya kasusnya yang berbeda dan sampai saat ini saya masih dalam ujian yamg maha kuasa,hanya masih menanti doa kapan untuk dikabulkan!!!!
BalasHapusSelamat utk putri tercinta dan bunda shalihah
BalasHapus