Kisah ini bermula hampir seperempat abad yang lalu. Kala itu saya baru saja diterima menjadi salah satu pegawai negeri sipil di salah satu sekolah dasar di wilayah terpencil. Lokasi yang sangat jauh dari kota kabupaten membuat tempat ini jarang dilalui oleh kendaraan bermotor. Tempat ini berada diketinggian kurang lebih 1000 meter dari permukaan laut menyebabkan udaranya terasa sangat dingin. Posisinya yang tinggi inilah hingga menyebabkan tidak adanya sumur gali di sana.
Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Masyarakat setempat hanya mengandalkan satu sumber air yang tidak pernah kering, berada di tengah hutan. Masyarakat menyebutnya dengan nama timba dengan lokasi yang sangat jauh dari pemukiman. Karena lokasi mengambil air yang jauh inilah maka tempat itu diberi nama Dusun Timbanuh.
Masyarakat setempat yang hidupnya masih terpencar dengan kondisi seadanya jauh dari kemewahan. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, mereka menjadi buruh pemecah batu dan mengumpulkan getah pohon asitaba.
Mengajar sambil kuliah mengharuskan ku untuk bolak balik ke rumah orang tuaku yang lokasinya lumayan jauh dari sekolah.
Matahari masih tertidur lelap saat aku sudah rapi dengan pakaian dinasku. Berburu mobil oven cup atau dam pengangkut batu merupakan rutinas yang harus aku jalani hampir setiap hari untuk bisa sampai sekolah.
Buru-buru ku raih tas ransel yang setia menemani perjalananku. Ku sedekapkan kedua tangan di dada menghalau udara dingin sembari mengayuh langkah ke jalan raya untuk menunggu angkutan umum yang akan naik ke Timbanuh.
Dari jauh sorot lampu mobil oven cup memberi isyarat kepadaku agar aku lebih mendekat. Tampak beberapa wanita paruh baya membawa barang dagangan tersenyum ke arahku.
"Ayo Bu guru naik," pinta salah seorang sambil mengulurkan tangannya hendak membantuku naik.
"Duduk di sebelah sini Bu guru." Ujar Inak Diah, panggilan akrab wanita yang bertubuh gemuk sembari menggeser badannya yang bobotnya dua kali tubuh mungilku.
Celotehan mereka selalu terdengar hampir setiap hari menemani perjalanan kami melewati rimbunnya pepohonan di kiri kanan jalan dan menanjak dengan kondisi jalan yang berlubang di sana sini.
Sesekali suara gelak tawa dari penumpang lain mendengar lelucon yang keluar dari bibir Inak Diah. Cahaya surya sudah menampakkan wajahnya yang kemilau saat aku menapakkan kakiku di pelataran sekolah. Tampak beberapa siswa menghampiri dan meraih tanganku untuk bersalaman.
"Bu guru, saya bawakan tasnya." Tanya Murni, gadis manis berambut panjang menawarkan jasa. Dengan cekatan dan berlari kecil dia langsung membawa tasku yang tidak terlalu berat menuju ruang guru.
"Teng...teng...teng...," Terdengar bunyi besi beradu mengeluarkan suara nyaring, sebagai lonceng, isyarat untuk masuk, istirahat maupun pulang sekolah.
Para siswa berlarian ke lapangan membentuk barisan, untuk mengikuti senam pagi. Kegiatan rutin harian sebelum masuk ke kelas masing-masing.
Terlihat wajah-wajah polos tanpa alas kaki meliukkan anggota badan mengikuti irama lagu senam kesegaran jasmani. Kelelahan menyusuri hutan untuk sampai di sekolah seolah sirna dengan iringan musik yang mengiringi gerakan mereka.
Kurangnya media yang ada di sekolah mengharuskanku untuk lebih kreatif mengemas pembelajaran agar lebih menarik.
Ku ajak para siswa mengamati beberapa pohon perdu yang ada di sekitar sekolah. Maklum hari itu materi tentang cara tumbuhan melindungi diri dari gangguan luar.
"Bu guru, pohon jelatang ini gatal kalau kita pegang, apa itu juga caranya melindungi diri dari manusia," tanya Burhan saat dia dan kelompoknya sedang asyik mengamati beberapa pohon di sekitar sekolah.
"Mendengar nama pohon jelatang, aku pun menghampiri mereka untuk melihat pohon yang dimaksud.
" Betul sekali, nama latinnya laportea. Apa ada yang tahu apa manfaat pohon jelatang ini. Tanyaku balik pada para siswa.
"Saat kaki saya berdarah, nenek menempelkan pohon jelatang ini dikakiku, dan darahnya berhenti keluar." Jawab Ican yang sejak tadi diam. Kedua jempolku pun mengarah ke mereka semua sebagai bentuk apresiasi atas keaktifan mereka.
Tak mau kalah dengan kelompok sebelah, Tari pun menimpali bersama kelompoknya.
"Pohon Ashitaba Bu guru." Suara mereka hampir serempak.
Sebagai pendidik harus adil. Aku pun beranjak meninggalkan kelompok tadi mencoba memberikan semangat dan perhatian kepada yang lainnya.
"Good, apa yang kalian tahu tentang pohon ini? ku coba memancing pendapat mereka.
"Getahnya yang berwarna kuning Bu guru, kalau sudah lengket di baju tidak bisa hilang." Jawab Robi.
"Bu Guru, tapi ibu saya sering mencampurkan di air minumnya." Ungkap Uswatun.
Ashitaba ini berasal dari Negara Jepang. Pohon ini bisa tumbuh di daerah yang udaranya dingin. Itulah sebabnya pohon ini dibudidayakan di sini karena banyak manfaatnya. Salah satunya menjaga kebugaran tubuh agar tidak cepat sakit. Itulah sebabnya ibumu menambahkannya di air minum agar dia tetap sehat.Tampak Uswatun dan siswa yang lain mengganggukan kepala.
Hingga siang beranjak keasyikan membuat suasana belajar yang sudah dipenghujung tak dirasakan. Namun siswa seolah enggan untuk beranjak, mereka masih asyik mengamati tumbuhan perdu di sekitar sekolah. Lonceng pulang menyadarkan keasyikan akan waktu belajar sudah usai. Usai mengemas buku, para siswa pun memanjatkan doa sebelum akhirnya mereka benar-benar pulang ke gubuk masing-masing.
***
Sabtu pagi tampak beberapa nasi bungkus dan makanan ringan terbungkus rapi di atas meja ruang guru. Seperti bulan-bulan sebelumnya, semua guru akan melakukan home visit ke rumah siswa yang sering tidak masuk sekolah. Kegiatan ini menjadi agenda rutin bulanan kami. Baju kaos dan training lengkap dengan sepatu olahraga sudah melekat di badan masing-masing guru.
Tujuh orang yang terdiri dari empat guru perempuan dan tiga guru laki-laki berjalan menyusuri jalan setapak. Cahaya matahari menerobos melalui celah-celah rimbunnya ranting pepohonan. Seolah sang surya tidak tega membakar kulit kami yang terus menyusuri jalan setapak hingga mencapai tujuh kilometer.
Satu jam berlalu kami sampai di sebuah gubuk yang berada di tengah kebun kopi. Rumah dengan pagar bambu dan atap ilalang, dilengkapi dengan tempat duduk sederhana yang terbuat dari bambu.
Nampak gadis kecil sedang duduk memangku balita. Gadis itu salah satu siswa yang jarang masuk sekolah. Wajahnya tertunduk malu, melihat semua guru datang ke rumahnya.
Misna siswa kelas empat menggulung ujung kain yang digunakan untuk menggendong sang adik. Kondisi rumah sepi, kedua orang tuanya sedang ke ladang menanam Padi Gogo Rancah. Padi yang hanya di tanam saat menjelang musim hujan.
Selain Misna ada sang nenek yang berusia lanjut serta bibinya yang juga memiliki balita. Setelah melakukan wawancara kepada siswa dan anggota keluarga yang ada di sana, kami pun pamit dan melanjutkan perjalanan.
Hingga siang menjelang kami bisa mengunjungi 8 orang siswa. Hampir semua siswa yang kami kunjungi memiliki kesamaan alasan. Mereka tidak masuk karena harus membantu orang tua menjaga adiknya serta membantu di ladang. Maklum penghidupan masyarakat setempat yang terbilang sulit memaksa orang tua melibatkan anaknya untuk bekerja walaupun mereka dalam usia sekolah.
Keren
BalasHapusTerima kasih
HapusMantap. Tetap konsisten mengunakan kata orang pertama saya. Atau tetap konsisten pakai kata orang pertama Aku
BalasHapusTerima kasih atas masukannya.
Hapus