Tiba saatnya kita akan dilamar oleh maikaf maut dan dinikahkan okeh kematian dan bercerai dengan dunia yang selalu kita kejar. Inilah kata yang paling tepat untuk menggambarkan kejadian tak terduga yang terjadi pada salah seorang keluarga siswa asuh saya.
Tampak kerumunan orang memenuhi rumah dan halaman yang ada di perkampungan padat penduduk yang ada di wilayah Biletepung. Bukan tanpa sebab mereka berkerumun disana. Tidak lain karena rasa penasaran bercpur tak percaya di dalam diri tiap orang. Seolah tidak percaya dan nyakin dengan cerita dan kejadian yang menimpam tuak aleh (panggilan akrab) lelaki bertubuh gempal yang setiap hari sibuk membantu sang istri berjualan nasi bungkus di sekitar rumah yang mereka tempati hampir 40 tahun.
Usai melaksanakan Salat Asar, lelaki paruh baya ini mulai mengayuh sepeda ontelnya menuju pasar sore yang berjarak kurang lebih dua dua kilo meter dari tempat tinggalnya. Kendaraan inilah yang setia mengantarnya membeli bahan untuk membuat nasi bungkus.
Sore itu, dia berniat akan membeli ayam kampung di langganan. Seperti biasa untuk menghindari keramaian lalu lintas dan kepadatan kendaraan di jalur bay Pass. Dia pun berinisiatif mengambil jalur kiri yang hanya dilalui oleh beberapa motor saja. Sembari menikmati semilir angin dan udara yang tidak begitu menyengat tanpa dia sadari sebuah sepeda motor yang dikendarai okeh tiga orang pemuda, melaju dengan kecepatan tinggi dari arah belakang menabraknya dengan benturan yang sangat keras. Membuat lelaki yang tidak menggunakan pengaman badan apapun ini terpelanting dari sepedanya. Tak ayal kepala yang tidak dilindungi oleh helm ini pun menghantam pembatas jalan. Hingga membuatnya tak bergerak sama sekali.
Tanpa identitas apapun membuat semua orang yang ada di tempat kejadian bingung akan mencari keluarganya kemana? Hingga akhirnya jenazah di larikan ke rumah sakit untuk mendapatkan visum dan melakukan penanganan lebih lanjut. Beberapa orang yang menyaksikan kejadian akhirnya mempostingnya di face book.
Tanpa ada firasat apapun sang istri dan putra bungsunya menunggu dengan sabar di rumah walau ada rasa khawatir karena sang bapak tidak kunjung pulang. Cahaya sang Surya sudah tidak tampak lagi. Saat tetangganya tanpa sengaja melihat status di Facebook dan menceritakan hal tersebut kepada Rizki yang masih duduk di bangku SMP. Remaja lima belas tahun itu merasa dunia terasa runtuh melihat foto sang bapak sudah tak bernyawa lagi. Tangisan histeris pun tak terelakkan memenuhi area rumah yang tidak terlalu luas ini.
Untuk memastikan apa yang terjadi keluarga yang lain langsung ke rumah sakit. Informasi yang diterima bahwa korban ditabrak oleh sepeda motor yang dikendarai oleh tiga orang pemuda dengan kecepatan tinggi. Dua dari penumpang motor mengalami koma di rumah sakit sementara yang satu orang lagi sedang ditangani oleh pihak kepolisian untuk diminta keterangan seputar kejadian tersebut.
Mendengar kabar tersebut saya bersama wali kelas Rizki dan beberapa siswa mengunjungi rumah duka. Kesembaban masih terlihat jelas di wajah istri almarhum. Kedatangan kami disambut dengan senyum yang dipaksakan. Dari penuturan Rizki inilah saya mendapatkan kronologis kejadiannya dan labgsung saya tulis di atas.
Semoga ini menjadi pembelajaran bagi kita semua agar melengkapi pengaman diri selama perjalanan seperti menggunakan helm, melengkapi surat kendaraan bermotor, memilimi SIM serta jangan ngebut. Ingat jalan raya bukan milik kita pribadi. Ada hak pejalan kaki dan pengendara lain. Patuhi lalu lintas untuk keselamatan kita semua.
Peristiwa ini menjadi pembelajaran hidup bagi kita semua, bahwa maut sekali mengingai setiap hembusan napas dan langkah kita. Untuk itu tetaplah memperbaiki diri menjadi lebih baik dan berguna bagi orang lain.
nangis bacanyaa aaa makasi udah dijadiin cerita bukk😭💘
BalasHapusTurut berduka, semoga Almarhum diberikan tempat terindah di sisiNYA dan keluarga yang ditinggalkan diberikan jesabaran dan keikhlasan🙏🙏
BalasHapus