Menurut Ki Hajar Dewantara mendidik dalam arti sesungguhnya adalah proses memanusiakan manusia. Dimana dalam proses mendidik tugas seorang guru adalah menuntun tumbuh kembang anak. Untuk itu dibutuhkan pembelajaran Sosial Emosional dimana PSE adalah mengenai bagaimana menjalankan sekolah.
Pembelajaran sosial emosional adaah tentang pengalaman apa yang akan dialami siswa, apa ya g dipelajari siswa dan bagaimana guru mengajar. Guru dapat merancang bagaimana ruang kelasnya, strategi mengajarnya, dan diharapkan anak belajar saat hati mereka terbuka, terhubung dengan lingkungan, serta adanya tujuan.
Pada saat seorang siswa melakukan kesalahan, tidak serta merta memberikan hukuman, namun hendaknya seorang guru harus mengumpulkan data dan fakta serta melakukan tanya jawab untuk memperkuat dugaannya. Dalam pengambilan keputusan pun seorang guru harus memperhatikan nilai-nilai yang ada sebagai landasan dalam pengambilan keputusan.
Dan yang tidak kalah pentingnya adalah dalam membantu menyelesaikan masalah siswa maka guru hendaknya menggunakan tehnik coaching.
Guru sebagai seorang pemimpin pembelajaran harus mampu mengidentifikasi dan mengelola segala sumber daya (aset) yang dimiliki oleh sekolah untuk dapat dijadikan sebagai keunggulan sekolah dalam rangka perwujudan visi dan misi sekolah.
Sekolah sebagai sebuah ekosistem yang terdiri dari unsur biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling berinteraksi yang selaras sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis.
Yang termasuk unsur biotik adalah kepala sekolah, guru, pengawas, komite, siswa, orang tua dan masyarakat sekitar. Sedangkan yang termasuk unsur abiotik adalah semua fasilitas sekolah, sarana dan prasarana, serta finansial.
Dalam rangka mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid, sekolah akan berhasil jika mampu memandang segala aset (sumber daya) yang dimiliki sebagai sebuah keunggulan bukan memandang sebagai sebuah kekurangan. Ada dua pendekatan yang yang bisa dilakukan untuk mengelola sumber daya alam Yanga ada di sekolah yaitu pendekatan berbasis kekurangan (defisit based thingking) dan pendekatan berbasis aset (aset bassed thingking).
Dalam rangka pengelolaan dan pengembangan sekolah, sebaiknya sekolah lebih menekankan pada pendekatan berbasis aset. Dimana pendekatan ini mendorong untuk memberdayakan semua aset yang ada di sekolah.