Karya : EKA SAFITRI OKTAVIANI
Aku terbangun dari mimpi ketika mendengar suara alarm dari ponsel, yang sengaja ku pasang agar tidak bangun kesiangan. Ku matikan alarm itu kemudian beranjak dari tempat tidur untuk mandi dan bersiap-siap sekolah. Setelah memakai seragam dan mengambil tas, yang sudah kusiapkan sejak semalam.
Setelah meminum segelas susu, saat memasang kaos kaki, seolah langkahku tertahan mendengar berita mengenai virus baru yang datang dari China, ada rumor yang beredar jika virus itu berasal dari pasar hewan di Wuhan, China dan sekarang sudah dua warga Indonesia yang terserang virus tersebut.
"Ayo udah siang nanti terlambat!" Seruan bundaku membuatku meninggalkan rasa penasaran terhadap virus itu.
Motor itu pun melaju menyusuri jalanan yang sudah ramai oleh lalu lalang kendaraan. Tanpa terasa aku sudah sampai di depan bangunan megah berlantai dua dengan cat warna coklat orange. Setelah mencium tangan bundaku, sebelum meninggalkanku, dengan senyum khasnya beliau selalu berpesan “belajar yang giat, jangan main-main”.
Ah iya, sebelumnya perkenalkan namaku Eka Safitri Oktaviani, anak kelas VIIIC. Aku paling menyukai Pelajaran Matematika dan IPA, aku suka semua yang mengenai rumus. Teman-temanku biasa memanggilku dengan sebutan Eka. Tubuhku tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek.
Baiklah ayo kita melanjutkan kisahku ini.
Kedatanganku dan para siswa yang lain sudah ditunggu dan disambut oleh beberapa guru yang berjejer di depan sekolah. Satu persatu kami menyalami mereka sebelum menuju kelas kami masing-masing. Hal inilah yang membuat sekolahku berbeda dengan sekolah yang lain, sehingga sekolahku terasa spesial oleh sambutan hangat para bapak/ibu guru yang setiap hari dilakukan secara bergantian.
Sembari menghela napas aku berjalan memasuki area sekolah melalui gerbang utama yang berada di sebelah Utara. Gerbang ini memang menjadi pintu masuk untuk para siswa dan guru. Selain gerbang tersebut ada juga gerbang samping, yang berada di sebelah barat. Para siswa boleh masuk melalui mana pun. Tetapi saat pulang sekolah untuk menghindari kecelakaan, para siswa memang dominan melalui gerbang samping. Maklum depan sekolahku merupakan jalur menuju Bandara Internasional Lombok. Kendaraan yang melewati jalur tersebut rata-rata berkecepatan tinggi.
Aku menuju kelas ku yang waktu itu berada di lantai satu. Sebelah kanan kelasku ada ruang guru, samping kiri kelas VIIIA, tak jauh dari sana tepatnya di pojok ada toilet siswa serta di depan kelasku ada perpustakaan. Mungkin posisi itu yang membuat kelasku selalu ramai tidak pernah sepi karena lalu lalang siswa entah ke ruang guru, ke toilet, ke perpustakaan untuk meminjam buku atau istirahat sejenak melepas penat.
Perpustakaan memang menjadi tempat ternyaman bagiku, selain dekat untuk membaca buku di dalam ruangan itu sangat nyaman, apalagi di belakangnya sawah, jadi udaranya terasa sejuk.
Setengah berlari takut terlambat aku menuju kelasku. Sambil membawa beberapa buku paket yang ku tenteng menggunakan tas plastik. Beberapa pasang mata memperhatikan tingkahku dan napasku yang ngos-ngosan. Setelah meletakkan tas dan buku di dalam laci aku pun bergabung dengan beberapa teman yang sudah ada di dalam kelas. Mereka sedang asyik membicarakan sesuatu.
Setelah mendengar beberapa saat ternyata mereka sedang mendiskusikan tentang virus Corona yang sudah sampai di Indonesia dan rencana pemerintah untuk meliburkan sekolah selama dua Minggu dan pembelajaran dilakukan secara online.
“Apa? Libur? 2 minggu? Selama itukah? Belajar online? Mengapa?” batinku.
Bukankah libur adalah hal yang paling diinginkan siswa selama bersekolahkan? Tapi tidak bagiku, memang libur itu menyenangkan tapi tetap saja, nanti kalau semuanya online bagaimana? Materi dijelaskan lewat apa? Jika hanya sebatas memberikan tugas, terkadang pasti membuat para siswa belum mengerti jika tidak di jelaskan secara langsung? Berbagai macam pikiran timbul dalam benakku.
Lamunanku buyar seketika saat bel sekolah berbunyi, menandakan siswa harus masuk ke kelas masing-masing. Namun tidak ada satu kelas pun yang belajar hari itu karena semua guru sedang rapat dadakan. Tampak lalu lalang siswa di depan kelasku ada yang ke kantin, ke perpustakaan, ke toilet.
Matahari semakin tinggi belum ada tanda-tanda pembelajaran akan berlangsung. Sementara perutku sudah menuntut untuk diisi. Bersama beberapa teman aku pun menuju kantin yang sudah dipenuhi oleh para siswa yang berdesak-desakan.
Kantin yang berada di belakang kelas itu memang tidak pernah sepi oleh para siswa kecuali pada saat jam pelajaran di mulai. Setelah mendapatkan satu gelas teh dan beberapa makanan ringan aku pun meninggalkan lokasi tersebut. Sementara teman-temanku masih asyik mengobrol di sana.
Sambil memotong jalan melewati tengah lapangan, aku menuju ruang perpustakaan dan duduk di teras perpustakaan sambil menikmati semilir angin dan ditemani oleh segelas teh dan makanan ringan. Tidak berapa lama terdengar suara Pak Guru Noviar dari pengeras suara.
“Assalamualaikum, mohon perhatiannya anak-anakku sekalian, dikarenakan virus baru dari China ini sudah mulai masuk ke Indonesia, jadi sekolah akan diliburkan selama 2 minggu kedepan, pembelajaran akan dilakukan secara online atau daring. Sekian atas perhatiannya, Wassalamualaikum.”
Kurang lebih itu yang aku tangkap dan ingat saat itu, keheningan saat pengumuman berlangsung sebentar diganti oleh sorak kegirangan dari para siswa setelah pengumuman usai.
Saat itu aku heran mengapa pemerintah meliburkan sekolah selama dua Minggu. Aku benar-benar meremehkan keberadaan virus mematikan itu, masak hanya karena dua orang yang terjangkit sekolah ku harus diliburkan selama itu? Kepalaku pusing memikirkan hal itu.
Tak lama kemudian wali kelasku Bu Guru Mahyaroni masuk dan mengarahkan kami sekelas untuk bersih-bersih sebelum libur, segera aku bangun dan mengambil sapu lidi di pojok belakang kelas.
Menyapu halaman depan kelas dari teras perpus dan membawa sampah dedaunan, mengumpulkannya di satu tempat serta dari depan teras ruang guru, cukup banyak sampah plastik disana. Setelah mengumpulkannya menjadi satu, mengambil sekop sampah, dan membuangnya ke tong sampah.
Ada juga yang bertugas menyapu kelas di dalam, mengelap kaca, intinya semua siswa bekerja tidak ada yang menganggur entah hanya melihat ataupun mencoba untuk kabur.
Tak lama semua beres, mengembalikan beberapa alat bersih-bersih itu ke tempatnya semula, ada yang masih menggosok bekas spidol yang menempel di papan tulis menggunakan kain, namun tetap saja noda spidol itu tidak dapat dihilangkan.
Bu Guru Mahyaroni mengarahkan kami semua untuk berkumpul, setelah itu memberikan penjelasan sedikit tentang virus ini, yang menyebabkan pihak sekolah harus meliburkan siswanya agar virus mematikan itu tidak cepat menyebar, benar. Selang beberapa menit kami pun dipulangkan.
Semua siswa menuju gerbang samping, secara bergerombol mereka pulang, tampak wajah mereka sangat senang dan antusias ingin cepat sampai di rumah agar cepat rebahan di kasur. Dari kejauhan juga sudah nampak beberapa penjual keliling yang menjual berbagai macam makanan, seperti telur gulung, es kelapa muda, dan lain sebagainya.
Aku Menyampirkan tasku di sebelah kanan dan tangan kiriku masih memegang buku paket. Sambil berjalan sembari bersenda gurau bersama anggy dan putri, kami membicarakan banyak hal.
Ku raih ponsel Nokia biasa berukuran kecil warna biru muda yang terselip di dalam tas dan berusaha menghubungi bundaku agar dijemput ke sekolah. Tapi karena beliau ada kesibukan, bundaku akan menjemput 30 menit lagi.
Aturan sekolah membolehkan kami membawa ponsel biasa asal tidak ponsel android atau yang memiliki kamera untuk menghubungi orang tua kala pulang asal tidak dihidupkan saat proses pembelajaran berlangsung.
Setengah jam berlalu. Para siswa yang tadinya ramai sudah mulai terlihat sepi karena sudah masing-masing di jemput, begitupun anggy dan putri yang memang dari awal sudah dijemput. Sekolah sudah sepi ada beberapa guru yang masih di dalam sana mungkin masih mengurus sesuatu.
Pandanganku jauh ke depan sembari memperhatikan motor yang semakin dekat menghampiriku. Ternyata bundaku, tanpa berlama-lama lagi aku segera naik dan motorpun melaju melewati jalur BIL yang tampak lengang ditambah teriknya matahari membuat hawa terasa panas. Namun indahnya pemandangan sawah yang kulewati sepanjang jalan sedikit mengurangi rasa panas yang mendera.
“Bagaimana, jadi kamu libur?” tanya bundaku sembari menatapku dari arah spion motor.
"Ya, dua Minggu tapi bisa juga lebih" jawabku.
Mendengar jawabanku yang seadanya, wanita yang merawatku selama ini hanya mengangguk.
Sesampaiku di rumah, tanganku langsung menggantung tas selanjutnya merebahkan tubuhku di kasur. Hari ini sungguh melelahkan, ditambah libur membuat moodku berantakan.
Tanganku meraih ponsel android yang tergeletak di atas meja, mengaktifkan Wifi. Notifikasi berebutan masuk menandakan banyak pesan yang masuk melalui whatshap. Ku mencobaembuaka gruf kelas. Ternyata para guru sudah mengirimkan kode classroom meminta para siswa untuk bergabung di aplikasi google classroom.
Semua yang biasanya dilakukan secara luring, setelah melakukan pembelajaran lewat daring banyak hal yang berubah mulai dari absen secara online, menerima dan mengirim tugas juga lewat daring bahkan pembelajaran yang biasanya dilakukan tatap muka diganti dengan zoom meeting.
Awalnya aku mengalami kesulitan karena baru mengenal GS, Google meet dan zoom. Membuat kerinduanku terhadap ributnya suasana kelas, tawa riang teman-teman bahkan merindukan suara marah guru saat kesal kepada beberapa siswa yang susah diatur.
Semua kegiatan yang menimbulkan kerumunan dibatasi. Masyarakat yang akan keluar rumah diwajibkan menggunakan masker, selalu mencuci tangan dan menggunakan handsanitizer. Membuat masker dan handsanitizer menjadi barang langka saat itu. Bahkan barang pokok seperti gula, minyak goreng, beras menjadi barang rebutan di hingga memberi kesempatan kepada pemasok untuk menaikkan harga barang dagangannya. Masyarakat semakin tercekik dan sengsara di tengah ketakutan yang melanda, ada oknum yang memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperkaya diri.
***
Tanpa terasa sudah satu tahun pembelajaran dilakukan secara daring. Membuat kami terbiasa dengan sistem belajar tersebut dan sekarang aku sudah duduk di bangku sekolah kelas VIII. Jika semua orang mengatakan jika masa terindah itu adalah saat SMP namun bagiku biasa saja.
Segala upaya sudah dilakukan mulai dari BDR, lockdown sampai penutupan sekolah dan beberapa fasilitas umum seperti perkantoran, bandara, pelabuhan, pusat perbenjaan, taman hiburan dan banyak lagi. Namun tidak membuat virus ini berkurang, malah lonjakan kasus virus Corona mencapai 12 ribu sehari. Hal ini memaksa pemerintah untuk mencari vaksin dari luar negeri dan mewajibkan semua masyarakat untuk melakukan vaksinasi mulai dari pejabat pemerintahan, petugas kesehatan yang menjadi garda terdepan, ASN, masyarakat di atas 60 tahun yang diberikan secara gratis.
Namun sampai sekarang corona ini masih menyerang bahkan ada juga tanpa gejala. Hingga akhirnya pemerintah mengeluarkan kebijakan berdamai dengan virus Corona dengan tetap menjalankan protokol kesehatan dan menerapkan 5M agar bisa terhindar dari virus ini. Hendaknya selalu memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan serta membatasi mobilitas dan interaksi.
Terkadang saat belajar dari rumah saya menrmukan kendala dan hambatan. misalkan jika cuaca sedang mendung sinyal akan hilang dan menyebabkan lelet, ponsel yang tidak memadai. Serta tidak adanya kuota internet. Terkadang saya belum mengerti penjelasan yang hanya diberikan guru, ponsel yang tidak mendukung.
Meskipun sekarang Kemendikbud memberikan kuota gratis untuk para pelajar. Tapi banyak siswa yang tidak mendapatkan pembagian kuota tanpa tahu penyebabnya apa. Corona bukan menjadi penghalang sekolahku tetap melakukan proses pembelajaran walau dengan sistem daring. Semoga virus ini cepat berlalu dan mengembalikan kebiasaan yang dulu sekolah seperti biasa bertemu dengan semua teman, guru dan sahabat. Tapi saya yakin ada hikmah besar dibalik peristiwa besar yang melanda dunia saat ini dan semoga kondisi ini membuat kita menjadi manusia yang lebih berkualitas baik dari segi pengetahuan maupun ajaran agama.
TAMAT
BIODATA PENULIS
Nama : Eka Safitri Oktaviani
TTL : Karang Bucu, 13 Oktober 2008
Anak ke : 1
Alamat : Btn Granada Residence, Jln Sevilla, no.23
Cita-cita : penulis, dan programmer
Harapan : untuk harapan kedepannya, semoga bisa jadi orang yang sukses, bisa membahagiakan orang tua.
Kalimat motivasi : "tidak ada kata terlambat untuk menjadi dirimu yang seharusnya"
Pesan : siapapun dirimu, jadilah yang terbaik

