Lara Gadis Remaja Saat Pandemi (Part 1)

Karya : Yᴜɴɪᴀ Pᴜᴛʀɪ Sᴀʟsᴀʙɪʟᴀ 

Siswa SMP Negeri 4 Gerung Kelas 8


Hari ini menjadi hari yang teramat sedih untuk gadis remaja bernama Sandra adinata. Dimana hari ini, ibunya di vonis terjangkit virus covid-19.


Sandra dan ibunya hanya tinggal berdua saja, setelah ayahnya meninggal dunia empat tahun lalu. Tak ada keluarga bagi Sandra selain ibunya. Walau gadis remaja itu memiliki bibi, tapi bibi tinggal ditempat lain sehingga dia tidak selalu ada di saat remaja SMP dan ibunya membutuhkan mereka. 


Semenjak ibunya di vonis terjangkit covid-19. Sandra tinggal sendiri di rumah kontrakan nya, yang di bilang cukup tidak layak, hanya beralaskan tanah, berdinding pagar, dan beratap dengan ilalang yang sudah mulai berlubang.


Kini ibunya sedang terbaring lemah di ranjang Rumah Sakit Abdi Insan. Syukur ada bik inem, saudara dari almarhum ayah Sandra yang mau menjaga ibunya di rumah sakit.



Tentu tak mudah bagi Sandra untuk hidup tanpa didampingi orang tua. Secara bergantian, tetangganya berbaik hati untuk memberikannya makanan.


"Kasus Covid-19 di Indonesia semakin meningkat, karna kurangnya kesadaran masyarakat akan protokol kesehatan. Banyak masyarakat yang kami temukan tidak menggunakan masker saat berkendara dan keluar rumah"



Gadis Remaja ini sedang asyik menonton televisi di rumah bibi Nur tetangga depan rumahnya. Dia tertegun melihat berita tentang perkembangan covid sekarang ini. Dari informasi itu Sandra bisa mengetahui semakin hari, kasus Covid di Indonesia semakin meningkat. Hal ini membuat masyarakat semakin resah.

"Kasus Covid-19 di Indonesia semakin meningkat, karna kurangnya kesadaran masyarakat akan protokol kesehatan." Poin dari pemberitaan yang dia dengar.


Sandra jadi teringat, dia sering melihat dan menemukan masyarakat yang  tidak menggunakan masker saat berkendara dan keluar rumah"


Saat sedang asyik menonton televisi. Tiba-tiba ponsel usang miliknya yang dia letakkan di samping tempat duduknya berdering. Pandangannya langsung menuju layar ponsel.

Bik inem, nama yang tertera di layar.


"Assalamualikum bik, bagaimana kabar ibu?" Sapanya membuka percakapan.

Tarikan napas panjang terdengar dari seberang menandakan ada beban yang dirasakan bi inem.

"Ada apa bik?


"Ibu kamu nak, ibu kamu sudah meninggalkan kita," ucap bik inem disertai isakan tangis


Prang...

Ponsel yang digenggamnya terlepas dari pegangan. Tanpa disadari Air matanya tumpah disertai Isak tangis membuat pemilik rumah spontan berlari menghampiri Sandra.


"Ada apa San?" Tanya bik Nur dengan wajah kebingungan 

"Bik...ibu bik...ibu meninggal"

Kata Sandra terbata-bata.


"Innalillahiwainnailaihirojiun"

Wanita empat puluh tahun itu memeluk gadis di depannya sembari mengelus punggungnya. 

"Kamu yang sabar ya, mana ponselmu biar bibi bicara sama bi inem."

Gadis itu menyodorkan ponselnya ke wanita disampingnya. Bu Nur hanya meminta bik inem menanyakan kepada pihak rumah sakit bagaimana prosesi pemakaman almarhum apakah sesuai standar covid atau pemakaman biasa.


Setelah mendapat informasi dari pihak rumah sakit bahwa ibunya akan di makamkan di pemakaman khusus Covid. Sandra ditemani oleh bik Nur dan bik Inem pun berangkat menuju tempat pemakaman. Tidak terlalu banyak orang yang menghadiri prosesi pemakaman. Aturan yang tidak membolehkan banyak orang untuk menghadiri pemakaman karena dikhawatirkan terjadi penularan.


Terlihat petugas Covid-19 memakai APD lengkap, sedang melakukan proses pemakaman ibu Sandra. Tangis Sandra pecah saat peti jenazah ibunya di masukkan kedalam liang lahad. Bik Nur dan Bi Inem ikut meneteskan air mata melihat gadis yang sekarang hanya hidup sebatang kara.


Kini tak ada lagi ibu yang slalu menyayanginya, tak ada lagi tempatnya bersandar dikala sedih. Tak ada lagi yang membimbingnya ketika dirinya menemukan kesusahan.


Sepulang dari pemakaman, bik Nur menawarkan Sandra untuk tinggal di rumahnya dulu beberapa hari ke depan. Walaupun gadis itu memiliki bibi dari almarhum ibunya. Namun karena kehidupan mereka juga pas-pasan membuat mereka tidak menawarkan Sandra untuk tinggal bersama. 


5 Komentar

  1. Ya allah bu guru sedih sekali ceritanya.smoga kedua orang tuaku tetap sehat slalu dalam lindungan allah maha kuasa

    BalasHapus
  2. Lanjutkan
    .
    Teruslah berkarya untuk menginspirasi

    BalasHapus
Posting Komentar
Lebih baru Lebih lama