Menulis dari Hati dengan Rasa dan Data

Sabtu, 30 Januari 2021

Penulis : Siti Marwanah



Materi yang luar bisa yang disampaikan oleh pak Ahmad Fuadi, penulis Novel Negeri Lima Menara. Betul-betul menginspirasi saya untuk menyelesaikan novel kedua. 


Titik tekan dari materi yang disampaikan oleh beliau adalah menuliskan dengan hati dan rasa agar orang yang membaca tulisan kita seolah ikut merasakan apa yang kita tulis sehingga ada getaran yang dia rasakan.


Hal ini bisa  dilakukan jika kita banyak membaca dan selanjutnya kita tuangkan ke dalam tulisan.


Beberap motivasi yang beliau sampaikan diantaranya:

1. Orang akan bisa menembus batas lewat tulisan yang dibuatnya, maksudnya disini adalah hidup seseorang bisa berubah dengan tulisan yang dia buat.


2. Kalau senjata beneran yang berisi peluru dan jika digunakan dalam pertempuran, maka hak itu bisa membuat orang kalah atau menang. Akan tetapi tulisan itu merupakan senjata yang berisi untaian kata yang selalu membuat penulisnya jadi pemenang karena akan terus dilihat dan diingat karyanya oleh orang lain sampai kapan pun.


3. Tulisan itu ibarat karpet terbang yang bisa membawa kita kesana kemari melintasi dunia dan benua dengan gratis.


4. Sebuah tulisan bisa mempengaruhi hidup penulisnya. Dari tidak dikenal menjadi orang yang terkenal. Seperti Ahmad Fuadi penulis Negeri 5 Menara ini bisa dikenal sampai mancanegara lewat tulisan yang ia buat.


Bagaimana caranya membuat tulisan dengan hati dan rasa

a. Tulislah sesuatu yang paling dekat dengan kita, dekat dengan hati agar kita mudah merangkai kata demi kata sehingga mampu membangkitkan rasa.bagi pembaca.

b. Sebelum dan saat menulis, aktifkan lima panca Indra kita dalam artian tulisan yang kita buat berasal dari apa yang kita rasakan, yang kita alami, yang kita lihat, kita dengar sehingga bisa membuat tulisan itu terasa lebih hidup dan menggetarkan jiwa.

c. Membuat tulisan itu ibarat membangun rumah. Artinya terdiri dari beberapa bagian seperti pondasi, tembok, atap, isi dan sebaginya. Dan biasanya orang akan sibuk dengan hiasan, keindahan yang tampak oleh mata sampai lupa dengan kekuatan pondasi  yang menjadi alas dan dasar dari bangunan tersebut. Seindah dan secantik apapun suatu bangunan, jika pondasinya tidak kuat, maka bangunan itu akan ambruk.


Begitu juga dengan menulis, orang sibuk dengan rangkaian kata dan kalimat indah dan puitis sehingga melupakan hal pokok yang menjadi daya tarik tulisan itu sendiri yaitu hati dan rasa. Maksudnya saat menulis Utamakan  melibatkan hati dan rasa agar bisa menggugah emosi pembaca.


Ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum mulai menulis fiksi diantaranya:

1. Tanyakan pada diri anda mengapa kita mau menulis atau apa niat awal menulis, apakah ingin terkenal, ingin berbagi ilmu, sebagai ajang promosi diri atau lainnya. Karena niat awal bisa menentukan semua hak yang kita lakukan.

2. Carilah topik yang asyik untuk di tulis yang bisa membuat kita berbusa-busa saat menulis. Hati dan perasaan kita selalu tergerak untuk menulis kelanjutan dari tema yang kita buat.

3. Lakukan riset yang kuat sehingga tulisan fiksi terasa nyata sehingga membuat pembaca terbawa emosi.


Riset bisa diperoleh dari berbagai sumber seperti:

a. Buku harian yang kita tulis. Pilah dan pilihlah coretan di buku harianmu sesuaikan dengan tema yang kita tulis.

b. Surat-surat atau coretan-coretan yang pernah kita tulis dulu

c. Foto-foto zaman dulu, bisa juga diambil dari internet

d. Membaca buku gangre sesuai dengan isi novel atau cerpen yang kita buat.

e. Carilah waktu atau momen-momen yang pas untuk kita bisa membuat tulisan sesuai dengan kondisi masing-masing. Lakukan dengan cara di cicil. Yang terpenting buatlah cerita dan kisah-kisah yang baik dan bisa memberi inspirasi kepada orang lain dan tidak harus tulisan kita jadi best seller.

f. Agar karya kita bisa diterbitkan,  sesuaikan jumlah kata yang ditentukan oleh penerbit. Jika ingin diterbitkan di penerbit mayor maka cerita fiksi yang tipis berkisar antara 40.000 kata, sedangkan untuk fiksi ukuran sedang berkisar antara 50.000 sampai 60.000 kata. Sementara untuk cerita fiksi yang tebal berkisar diatas 60.000 kata 


g. Untuk membuat kisah fiksi dari pengalaman sendiri, agar lebih menarik maka bisa dilakukan dengan menambahkan atau merubah item di bawah ini:

• Setting lokasi yang tidak biasa seperti di atas gunung

• Setting waktu kejadian bisa zaman dulu, sekarang atau zaman yang akan datang

• Setting suasana seperti saat bencana alam seperti banjir, gempa, gunung meletus dan sebagainya.


4. Setelah kisah fiksi kita jadi, mintalah kepada beberapa orang untuk membacanya, lalu dengarkan masukan dari mereka semua untuk lebih menyempurnakan hasil karya kita.


Demikian beberapa hal yang bisa saya tangkap dari pemaparan materi yang disampaikan oleh pak Ahmad Fuadi, semoga ini bisa menjadi sesuatu yang berharga dan jadi ilmu yang bermanfaat untuk kita semua, Aamiin Ya Robbal Alamin


3 Komentar

  1. Alhamdulillah dapat lagi ilmu baru tentang menulis cerita fiksi. Terimaksih banyak tulisn ibu sangat menginspirasi saya😄🙏❤️

    BalasHapus
  2. Salam literasi Bu ,,tulisannya mantap....main yuk ke blog saya tuk saling suport ...terimakasih

    BalasHapus
Posting Komentar
Lebih baru Lebih lama